Puisi Alwin Abdullah Sempurnakan Malam Pengukuhan Pengurus IKABA Banda Aceh

Alwin Abdullah memperkenalkan personel pendukungnya menjelang pembacaan puisi “Ketika Harapan” dan “IKABA” yang mewarnai rangkaian acara pengukuhan Pengurus IKABA Banda Aceh di Aula Mawardy Nurdin, Lantai IV Gedung Balai Kota Banda Aceh, Sabtu malam, 21 Mei 2022. (Dok Alwin Abdullah)

Theacehpost.com | BANDA ACEH – Pengukuhan Pengurus Ikatan Kekeluargaan Aceh Barat (IKABA) Banda Aceh Masa Bakti 2022-2027 di Aula Mawardy Nurdin, Lantai IV Gedung Balai Kota Banda Aceh benar-benar gemilang dan bertabur bintang dengan berkumpulnya berbagai eleman masyarakat dari Bumi Teuku Umar.

Baca: Kepengurusan IKABA 2022-2027 Dikukuhkan, Ini Komposisinya

Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak ba’da magrib hingga pukul 23.00 WIB disempurnakan dengan pementasan seni budaya diisi oleh Grup Shalawat Ibu-Ibu Cut Nyak Meulaboh Pimpinan Hj. Cut Marliun TB, SE; Seni Rapa’i Geleng Sanggar Seni Cut Yun; dan persembahan puisi karya Alwin Abdullah, salah seorang tokoh Aceh Barat yang duduk sebagai Ketua Dewan Penasehat IKABA Banda Aceh 2022-2027.

Alwin Abdullah yang tampil pada sesi terakhir pementasan seni budaya mampu memunculkan atmosfer lain—atmosfer hening dan menggetarkan—di Aula Mawardy Nurdin, tempat kegiatan pengukuhan itu berlangsung.

Mengenakan kemeja putih dipadu celana warna gelap, sosok Alwin naik ke panggung utama dan memperkenalkan satu per satu personel pendukung yang akan ‘mengeksekusi’ puisi dan lagu karyanya berjudul “Ketika Harapan” dan “IKABA”.

“Malam ini saya didampingi De’na yang akan membacakan puisi Ketika Harapan dan IKABA. Juga ada Dewi sebagai penyanyi (vocalis) diiringi Samsul (keyboard) dan Wahyu (biola). Tim ini juga diperkuat Yani sebagai teknisi,” begitu pengantar Alwin sebelum meninggalkan panggung disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Berikut adalah untaian bait-bait puisi berjudul “Ketika Harapan” karya Alwin Abdullah yang dibacakan De’na dengan kekuatan vokal yang mampu mengaduk-aduk emosi:

” KETIKA HARAPAN “

 Bertahun tahun kami kalah ….

Tidak memiliki satupun figur Pemimpin yang membuat kami terangkat dalam rasa bangga ….

Berlama lama kami seperti menyerah ….

Seakan akan harapan tentang negri yang maju, adil, dan bersih terbang melayang dan lenyap bersama angin ….

Tiba tiba kau muncul membawa keranjang besar untuk menampung harapan kami.

Tapi …. ah sudahlah ….

Biarkan aku membaca skenario lain dibalik ini ….

Aku melihatmu seperti sebuah batu mulia yang dilempar ketengah danau ..

Bahwa nama dan karyamu tidak dihargai ….

Banyak pohon cempaka atau cendana yang harum bunganya tidak terlalu tercium ditempat ia tumbuh, dibawahnya banyak yang gemar membuang hajat dan kotoran untuk memupuk pohon itu ….

Sehingga bunga cempaka dan cendana yang harum bunganya tidak tercium ditempat ia tumbuh ….

Benar yang dikatakan anak saya, negri ini telah membuang sebutir berlian … 

Untuk sahabatku:

Prof.Dr.Muklisin ….

 

Tak lama berselang, di tengah kesyahduan nyanyian latar oleh vocalis Dewi diingi gesekan biola Wahyu dan keyboard Samsul, kembali De’na menghipnotis hadirin dengan puisi kedua: “IKABA”.

Puisi “IKABA”

Lagi-lagi gemuruh tepuk tangan membahana untuk sebuah ending yang nyaris tanpa cacat. Begitulah. []

 

 

google logo