Di Penghujung Ramadhan

Muhammad Nasril Lc MA. (Foto: Dok. Kemenag)

Oleh: Muhammad Nasril Lc MA *)

TAMU istimewa “Ramadhan” 1443 H sudah memasuki hari ke-28. Dia kini tengah bersiap untuk pergi meninggalkan kita. Tidak ada yang mampu menghalanginya agar bertahan lebih lama, dan kita mungkin baru menyadarinya atau memang tidak sadar sama sekali kalau ia pergi begitu cepat.

Saat ia pergi, mudah-mudahan kita telah melewatinya dengan amalan-amalan terbaik serta meraih berbagai keutamaan yang ada pada Ramadhan, diampunkan dosa dan juga diterima semua amal ibadah kita.

Sungguh tidak terasa kini sudah berada di penghujung bulan penuh berkah ini. Padahal, seakan baru kemarin ia menyapa. Ia berjalan seperti angin, berlalu begitu cepat. Tapi sayang, kita terlalu santai dan lambat meresponnya, tidak menggunakan full power dan tidak memanfaatkan waktu bersamanya dengan baik. Bahkan banyak waktu terlewati begitu saja. Banyak amalan yang luput, kadang kita juga melewati hari-hari Ramadan ini seperti hari-hari biasa di bulan lain.

Maka, berbahagialah bagi mereka yang telah maksimal bersama Ramadhan, melaksanakan berbagai amalan, menjalani berbagai ibadah dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjadi hamba taat, meskipun kondisi di tengah hiruk pikuk dunia saat ini.

Kini tiba waktunya untuk melihat atau evaluasi aktivitas dan kegiatan kita selama Ramadan ini, apakah sudah menyelesaikan target target yang telah disusun  sebelum masuknya Ramadhan atau mission falied.

Sejatinya, sebelum Ramadhan pergi kita harus menyelesaikan pogram-pogram atau target-target yang belum terlaksana, walaupun waktu yang tersisa begitu singkat, seperti mengkhatam Alquran, perbanyak sedekah dan lain-lainnya.

Kalau kita ibaratkan, hari-hari akhir Ramadhan ini seperti babak final dalam sebuah kompetisi, para peserta semakin sedikit. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan istikamah berhasil lolos dari babak sebelumnya.

Kita bisa melihat kondisi di sekitar kita, juga saf-saf sahlat di fase akhir ini, jelas berbeda, baik itu jamaah shalat fardhu maupun shalat Tarawih.

Fenomena unik lainnya, di sepuluh akhir lebih banyak yang menuju ke pasar atau pusat perbelanjaan dibandingkan dengan ke masjid/menasah. Padahal tempat itu lokasinya tidak jauh dari masjid. Hal ini seakan lumrah, seperti sebuah tradisi, karena hampir setiap akhir Ramadhan suasananya selalu seperti ini, sepinya tempat-tempat ibadah dan membludaknya pasar dan kedai kopi.

Seharusnya, menjelang berpisah dengan Ramadhan atau di 10 akhir, amal ibadah kita lebih dahsyat dari sebelumnya, seperti yang dilaksanakan para pendahulu kita, mereka fokus beribadah di akhir Ramadhan.

Mungkin, hari ini kita tidak bisa seperti mereka para sahabat Rasulullah SAW atau para ulama dahulu yang menangis tersedu karena berpisah dengan Ramadhan. Padahal, sehari-hari mereka begitu fokus dan khusyuk memanfaatkan setiap detik waktu Ramadhan, apalagi di 10 terakhir. Mereka fokus, iktikaf, mengurangi tidur, semakin rajin dalam ketaatan, mereka biarkan kelelahan dalam ketaatan.

Bagi mereka, waktu Ramadhan itu sangat terbatas, jadi mereka tidak sia-siakan. Sementara kita, masih jauh dan sangat jauh, kadang seakan menjalani rutinitas Ramadan hanya sebatas kewaijban, baca Alquran juga kurang, amaliah-amaliah lainnya juga seperti biasa.

Namun, kita tetap semangat berjuang di waktu tersisa berikhtiar dengan sungguh sungguh untuk mendapatkan ampunan Allah SWT sebelum Ramadan pergi.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bagaimana Rasulullah SAW bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh hari terakhir dengan segala kebaikan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ummul Mu’minin Aisyah r.a “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim).

Semestinya hadis ini bisa menjadi motivasi untuk kita dalam menghidupkan kebaikan di babak final melebihi dari biasanya, bukan membiarkan kesempatan itu terbuang begitu saja. Semoga kita termasuk orang yang sukses hasil tempaan madrasah Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari).

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya. Kita tidak bisa menilai seseorang hari ini, bisa jadi esok ia husnulkhatimah. Begitu juga dengan Ramadhan, bertahan dengan bersungguh beramal saleh sampai penghujung adalah amalan terbaik.

Kalau kita mengetahui betapa banyak hikmah dari hadirnya bulan ini, sungguh kita akan berharap semua bulan yang lain menjadi Ramadhan karena keutamaannya, pahala ibadah yang tiada batas, pahala sunat menjadi wajib, dan di dalamnya juga terdapat Lailatulkadar.

Kini, waktu berpisah dengan Ramadhan semakin dekat. Ramadhan akan kembali datang pada tahun berikutnya. Sementara kita belum tahu apakah akan kembali berjumpa dengan Ramadhan atau tidak.

Hari-hari Ramadhan akan berakhir. Lakukan yang sempurna pada saat berpisah dengannya. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengannya dan semoga kita mendapat ampunan sebelum Ramadhan pergi. Amin Ya Rabb.

*) Penulis adalah Penghulu Muda KUA Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar