Profesor

  • Bagikan
Sulaiman Tripa

Oleh: Sulaiman Tripa

KEMARIN pagi saya dapat kabar dari Doktor Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA), tentang kepergian Profesor A. Hamid Sarong. Era kini, yang jauh seperti dekat dan yang dekat seperti jauh. Padahal KBA sedang menyelesaikan programnya, touring keliling Indonesia. Posisinya sudah di Jakarta. Tetapi informasi duka ini, lebih dulu diketahuinya ketimbang saya yang berada tidak jauh dari tempat tinggal profesor. Kondisi Profesor yang sakit, beberapa waktu yang lalu, saya ketahui dari Direktur Bandar Publishing, Doktor Mukhlisuddin Ilyas.

Saya tidak mengenal dekat dengan profesor. Mungkin tingkat kedekatannya sama seperti kedekatan abang saya, yang pernah menjadi aktivitas di senat mahasiswa IAIN Ar-Raniry. Abang saya akhirnya tidak sempat menyelesaikan di kampus ini karena mendaftar untuk profesi lain –ia menyelesaikan kuliahnya di Lhokseumawe.

Saya punya pengalaman beberapa kali, menemani abang saya itu, dan profesor memanggil namanya begitu melihat abang saya. Lalu profesor menanyakan, bagaimana hubungan abang dengan saya. Dengan pengalaman itu, saya yakin kenalnya itu sudah lama. Tidak tiba-tiba. Apalagi sampai mengenal namanya walau yang bersangkutan sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Menariknya abang saya kuliah di Fakultas Adab, bukan Fakultas Syariah –tempat profesor berkiprah.

Soal kedekatan ini, kadangkala bukan sesuatu yang penting. Profesor ini, dekat atau tidak, adalah guru saya. Tidak secara langsung. Melainkan melalui karya dan diskusi-diskusinya. Pada awal mengenal beliau, saya sering menanyakan banyak hal –khususnya tentang pengetahuan hukum dan syariah. Secara khusus saya menemuinya dan saya mendapatkan jawaban seperti orang lain yang mendapatkannya di dalam kelas.

Komunikasi terakhir saya saat menyampaikan keinginan untuk merangkum sebuah buku tentang biografi para profesor bidang hukum di Darussalam. Dari dua kampus di kawasan ini memiliki dua fakultas yang memiliki kajian yang sama, yakni Fakultas Syariah dan Hukum di UIN Ar-Raniry dan Fakultas Hukum di Universitas Syiah Kuala. Biografi profesor pernah diterbitkan oleh Ar-Raniry Press masa kepemimpinan Profesor Yusny Sabi. Saat itu, IAIN Ar-Raniry mengumpulkannya dalam satu buku.

Dengan melihat buku ini, saya jadi berkeinginan melakukan hal yang sama. Namun terbatas pada bidang hukum. Tidak hanya Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala saja. Toh, kalau kita lihat pengajar di fakultas ini, terutama magister dan doktoral, juga diisi oleh para profesor dari UIN. Maka memberi judul Profesor Hukum dari Darussalam, saya anggap bukan sesuatu yang keliru.

Untuk buku ini sendiri sudah terkumpul sekitar tujuh tulisan dari mereka yang dekat dengan para profesor hukum. Termasuk Profesor A. Hamid Sarong sudah siap naskahnya. Bersama profesor lain, naskah ini diharapkan bisa terbit dalam enam bulan ini.

Semangat menyiapkan buku ini seperti diuji, kadang kembang-kempis. Terutama menunggu naskah-naskah yang sedang disiapkan tentang profesor. Namun saat mendengar kabar duka kemarin pagi, saya langsung teringat kewajiban merampungkan buku yang belum terselesaikan. Mudah-mudahan Allah tempatkan profesor di tempat terbaik. []

  • Bagikan
#