Madrasah Ramadhan

Ketua Pembina Yayasan Cahaya Aceh, Azwir Nazar. (Foto: Dokpri)

Oleh Azwir Nazar *)

ALHAMDULILLAH, kita dapat kembali menjalankan ibadah Ramadhan 1443 Hijriah. Walaupun ada sebagian saudara kita yang berpuasa lebih awal, sepatutnya kita saling menghormati dan menghargai. Semoga nanti hari raya Idulfitri bisa berbarengan.

Hasil isbat penentuan awal Ramadhan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Minggu, 3 April 2022.

Perbedaan penentuan awal Ramadhan bukan hal baru. Hal tersebut sangat bergantung dari metode yang dipakai untuk menentukan awal puasa.

Selama ini kita mengenal metode hisap dan rukyatul hilal (melihat bulan).  Keduanya memiliki dasar dan acuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara syari maupun ilmiah.

Maka perbedaan awal Ramadhan tahun ini di tengah-tengah kita, harus tetap disikapi secara arif dan bijak. Termasuk memberi edukasi pada masyarakat bahwa hal demikian adalah sangat wajar, terutama dalam perspektif ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Tugas kita adalah fokus menjalankan semaksimal mungkin ibadah Ramadhan dengan selalu mengeratkan persatuan dan kesatuan.

Kita ketahui, melalui media massa bahwa Ramadhan tahun ini sangat berbeda. Dunia berangsur normal, setelah diterpa pandemi dua tahun lebih.

Di banyak negara, penduduk muslim menjalankan Ramadhan dengan penuh antusias. Shalat tarawih yang dihadiri puluhan ribu orang di Hagia Sophia digelar pertama sekali setelah 88 tahun keruntuhan khalifah Turki Ustmani di İstanbul.

Begitupun di Mekkah dan Madinah, kaum muslimin berbondong bondong menuju Baitullah dan Ziarah ke kota suci Sang Nabi.

Tak ketinggalan juga untuk pertama sekali buka puasa dan tarawih yang dilakukan di Times Square, pusat kota New York, Amerika, yang diikuti ribuan anak muda muslim di kota itu.

Suasana spesial seperti di atas telah mengisyaratkan kita telah kembali ke ‘new normal’. Sekaligus menunjukkan pada dunia akan mukjizat Ramadhan yang meneguhkan spirit positif bagi kehidupan.

Magnet Ramadhan telah menghidupkan kembali roda kehidupan yang sempat lumpuh di musim pandemi.

Maka tugas selanjutnya adalah bagaimana menjadikan momentum Ramadhan sebagai titik spirit tatanan kehidupan baru yang lebih baik.

Dua tahun pandemi telah mengajarkan kita banyak hal. Bahwa sebagai manusia kita memiliki cukup banyak keterbatasan dan kekurangan. Rencana rencana kita ditentukan oleh Dzat yang Maha Agung, yakni Allah SWT.

Laju cepat perkembangan dunia dengan kebanggaan yang begitu besar akan kemajuan tehnologi, globalisasi dan digitalisasi seolah terhenti hanya dengan virus Corona.

Jutaan orang meninggal karena Covid-19. Sebagian kehilangan pekerjaan, perusahaan besar gulung tikar, bahkan resesi pun melanda dunia. Plus perang Rusia-Ukraina dalam sebulan terakhir sedikit banyak akan berdampak signifikan dengan naiknya harga barang di dalam negeri.

Oleh karena itu, kita pantas lebih banyak bersyukur, terutama di Aceh. Karena kehidupan Ramadhan kita lebih normal di banding wilayah lain.

Suasana puasa lebih syahdu terasa. Malam-malam tarawih dan tadarus meski dunia dilanda pandemi, tapi hampir seluruh daerah di Aceh berlangsung khidmat dalam dua tahun terakhir ini.

Tentu dengan keadaan lebih normal ini, suatu niscaya bahwa Ramadhan tahun ini harus benar benar menjadi madrasah kehidupan bagi kita.

Momentum ini tak boleh disia-siakan. Jadikan waktu kita lebih bermakna. Pola hidup kita lebih baik. Rasa peduli kita lebih tumbuh. Cinta kita pada agama lebih besar kuat.

Dan pada akhirnya Ramadhan akan melahirkan hamba-hamba yang bertakwa yang kesalehannya bukan saja bagi diri sendiri, tapi juga dirasakan manfaatnya bagi saudara yang lain, yang berjuang bangkit pasca-pandemi.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan supaya hari-hari Ramadhan menjadi rahmat, ampunan dan kebebasan kita dari api neraka. Insyaallah. []

*) Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Cahaya Aceh