Kisah Pertarungan Anak Pulau di Kampus Unida Lamteuba  

  • Bagikan
Mahasiswa Unida Lamteuba didampingi dosen pembimbing ketika melakukan kuliah lapangan di SMK Saree, Aceh Besar. (Dok Unida)

MENYEBUT nama Unida (Universitas Iskandar Muda), pikiran kita langsung tertuju pada lokasi kampus di kawasan Surien, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Begitu juga ketika kita mengaktifkan mesin pencari berbasis Google Maps dengan mengetik Kampus Unida, langsung muncul alamat lengkap perguruan tinggi tersebut: Jalan Kampus Unida No.15, Surien, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh 23234. Ternyata—bisa jadi sedikit yang tahu, Kampus Unida bukan hanya di Kota Banda Aceh. “Unida juga punya kampus di Lamteuba,” kata Wakil Rektor (Warek) III Unida, Bustamam Ali, M. Pd ketika bincang-bincang santai dengan Theacehpost.com sambil ngopi di teras belakang Warkop Cut Nun—areal Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng, Banda Aceh, seusai shalat tarawih, 16 Ramadhan 1442 H/Rabu, 28 April 2021. Waktu itu, pria yang akrab disapa Bang Bus yang juga salah seorang wartawan senior di Aceh bercerita panjang lebar tentang asal usul terbentuknya Kampus Unida Lamteuba, termasuk mahasiswa angkatan pertamanya yang kini tersisa 10 orang—semuanya dari Kabupaten Simeulue. Ke-10 anak muda asal Simeulue (anak Pulau) tersebut telah memasuki babak akhir pertarungan panjang mereka di Lamteuba, di kampus yang jauh dari hiruk pikuk kota, tenang dalam pelukan alam, berpagar kokohnya pegunungan Seulawah.

 

Setelah hampir dua bulan Bang Bus berkisah tentang keberadaan Kampus Unida Lamteuba, akhirnya pada Minggu, 13 Juni 2021, Theacehpost.com berkesempatan berbincang dengan beberapa mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berlokasi di Desa (Gampong) Meurah, Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimuem, Kabupaten Aceh Besar.

Perwakilan mahasiswa Unida Lamteuba menyerahkan karya bonsai kelapa kepada Rektor Unida, Prof. Syafii Ibrahim. (Dok Unida)

Mengutip informasi dari laman https://brwa.or.id, Kemukiman Lamteuba terdiri delapan desa, yaitu Lamteuba Droe, Pulo, Lambada, Lampante, Meurah, Lam Apeng, Blang Tingkeum, dan Ateuk.

Wilayah adat (kemukiman) seluas 16.374 hektare ini dihuni 1.497 KK dengan rincian 3.262 jiwa laki-laki dan 2.944 jiwa perempuan. Mata pencarian utama masyarakatnya petani/peladang/pekebun, peternak, pengumpul hasil hutan, dan pedagang.

Keceriaan mahasiswa Unida Lamteuba ketika buka puasa bareng dengan pimpinan universitas di Kampus Lamteuba. (Dok Unida)

Di sekeliling dan di tengah wilayah Mukim Lamteuba terdapat banyak sekali makam ulama dan para aulia.

Menurut informasi, ada sekitar 44 makam, namun hanya beberapa makam ulama saja yang sudah diketahui namanya, yaitu Makam Teungku Japakeh di Gampong Ateuk, Makam Teungku Blang Kala di Gampong Ateuk, Makam Teungku Kayee Adang di Gampong Lam Apeng, Makam Teungku Keumereuk di Krueng Teungku, Makam Teungku Lamcot di atas Gunung Seulawah (Gampong Pulo dan Gampong Lamteuba Droe), Makam Teungku Cot Meunasah di Gampong Blang Tingkeum, dan Makam Teungku Cot Lhok Kueh di jalur masuk ke Lamteuba melalui Seulimuem.

“Kampus kami berada dalam wilayah Desa Meurah. Di sinilah sejak 2018 lalu kami menuntut ilmu. Kisah awal yang sangat berat namun kami telah melalui semua tantangan itu,” kata Riski Agus Wardana selaku Komting Mahasiswa Fisip Unida Kampus Lamteuba ketika bincang-bincang dengan Theacehpost.com.

Di lahan jagung yang dikelola mahasiswa Unida Lamteuba. (Dok Unida)

Meski Riski Agus Wardana dkk tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama sejak 2018, namun pihak Unida sudah menjajaki pengembangan perguruan tinggi swasta tertua di Aceh tersebut dengan membuka kampus di Lamteuba sejak awal 2013.

Seperti dikatakan Rektor Unida, Prof Syafii Ibrahim yang pernah dilansir Harian Serambi Indonesia, pengembangan Kampus Unida di Lamteuba sehubungan adanya dana hibah dari Dr. Tarmidi bin Ibrahim, warga asal Aceh yang kini berkewarganegaraan Australia.

“Kita ingin memanfaatkan dana hibah tersebut semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat di pedalaman Aceh. Ini sesuai dengan amanah pemilik dana,” kata Prof. Syafii.

Rekrut Anak Pulau

Riski Agus Wardana menceritakan, pada tahun 2018 tim dari Unida Banda Aceh menyeberang ke Simeulue.

Tim Unida yang dipimpin Rektor Prof. Syafii Ibrahim menggendeng PGRI Simeulue melakukan sosialisasi program sekaligus merekrut lulusan SLTA di kepulauan tersebut untuk kuliah di Unida.

Menurut Riski, tim rekruitmen menjaring 20 lululan SLTA untuk kuliah di Unida. Kepada calon mahasiswa diberitahukan bahwa Unida membuka kampus di Lamteuba dan calon mahasiswa dari Simeulue akan ditempatkan di sana sebagai perintis.

Setelah tim kembali ke Banda Aceh, diterima kabar kalau jadwal kuliah diundur karena ada beberapa fasilitas yang harus dilengkapi. “Karena terjadi pengunduran selama tiga bulan, sebanyak enam calon mahasiswa batal mengikuti program itu,” ujar Riski.

Pada Desember 2018, sebanyak 14 calon mahasiswa didampingi Ketua PGRI Simeulue berangkat ke Banda Aceh. “Sebelum ke Lamteuba dengan menggunakan bus, terlebih dahulu kami singgah di Kampus Unida Surien,” kenang Riski.

Riski juga menceritakan kisah awal yang menurutnya sangat menyimpang dari bayangan mereka.

“Dalam perjalanan kami sempat saling pandang dan bertanya dalam hati kenapa kami harus ke hutan. Meski sempat dikatakan kami akan kuliah di Lamteuba, tetapi nggak kebayang kalau kampusnya di hutan,” kata Riski mengenang perjalanan awal mereka menuju Kampus Unida di Lamteuba. Riski dkk merupakan lulusan SMA dan SMK, kelahiran 1999, 2000, dan 2001.

Di Lamteuba, mereka diasramakan (boarding) dan kuliah dengan konsep kewirausahaan seperti pertanian, peternakan, dan tambak ikan. Juga ada pendidikan keagamaan.

Sistem perkuliahan, menurut Riski berjalan normal. Dosen datang rutin ke kampus sesuai jam kuliah. Kalau dosen nginap di Lamteuba, dilanjutkan kuliah malam. Jika sedang tidak ada dosen, proses pendidikan tetap berlangsung diselingi dengan Bahasa Arab, Bahasa inggris, dan keagamaan. Mereka juga belajar kitab kuning.

“Dari semester I sampai IV ada empat ustadz namun mereka pamit karena harus melanjutkan pendidikan S2. Meski sekarang mereka sudah tidak ada tetapi dengan bimbingan mereka kami bisa melanjutkan sendiri.

Tersisa 10 orang

Diakui Riski, bukan sesuatu yang mudah melewati hari-hari di Lamteuba. Buktinya, ketika semester II, empat lagi kawan-kawannya dari Simeulue mundur. Bersamaan dengan itu, mahasiswa dari Lamteuba yang tidak boarding juga memilih tak melanjutkan kuliah.

“Sejak saat itu tinggal kami 10 orang yang bertahan. Pak Bus terus memotivasi kami. Bahkan Pak Rektor selalu mengingatkan agar kami jangan mundur,” kata Riski, anak muda dari Desa Lebang, Kecamatan Tepah Barat, Kabupaten Simeulue.

Riski merincikan identitas sembilan kawannya yang lain (semuanya laki-laki), yaitu Ramon Mairanda dari Desa Lebang, Kecamatan Teupah Barat; Saiful Adami dari Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur; Pendi Alfanoya dari Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat; Aldi Alfan dari Desa Latiung, Kecamatan Teupah Selatan; Riski Wahyudi dari Desa Latiung, Kecamatan Teupah Selatan; Muliadin dari Desa Badegong, Kecamatan Teupah Selatan; Fendriliadi dari Desa Ulul Falu, Kecamatan Teupah Selatan; Rahmad Yadin dari Desa Kota Batu, Kecamatan Simeuleu Timur, dan Ikhwan Mariadi dari Desa Awel Kecil, Kecamatan Teupah Barat.

“Alhamdulillah, sekarang kami sudah semester VII, sudah memasuki penelitian untuk skripsi. Kalau orang tua nelepon kami selalu bilang baik-baik saja. Kami mohon doa agar bisa selesaikan kuliah tepat waktu dan membawa pulang titel sarjana dari Fisipol Unida Kampus Lamteuba,” kata Riski, bersemangat.

Kini, hari-hari yang dijalani 10 pemuda asal Simeulue tersebut adalah hari-hari penuh harapan untuk segera menyelesaikan pertarungan.

Mereka, seperti kata Bustamam Ali adalah petarung sejati yang bukan hanya menjadi kebanggaan Unida tetapi juga kita semua. Mereka telah menjalani kehidupan yang jauh dari kelaziman pergaulan sebagai anak muda. Lamteuba telah memberikan banyak pelajaran untuk mereka. Pelajaran tentang bagaimana menaklukkan tantangan dan merancang masa depan.[]

 

  • Bagikan
# #