Gejala Alam Apa Ini? Kawanan Monyet di Gunung Paro Meminta-minta di Jalan

  • Bagikan
Kawanan monyet di Gunung Paro, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, turun ke jalan, Sabtu, 26 Juni 2021. (Foto: Usamah El-Madny)

GEJALA alam menjadi suatu peristiwa yang berpengaruh dalam kehidupan. Melalui tanda-tandanya, manusia dapat memprediksi hal apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Bencana sering datang dari sebuah keadaan di mana alam memberikan pertanda, atau biasa disebut dengan gejala alam.

24 Desember 2004, misalnya. Aceh dilanda gempa kuat dan beberapa jeda kemudian air laut tumpah ruah ke darat. Peristiwa tersebut kemudian kita kenal dengan tsunami.

Beberapa waktu sebelum musibah berat itu terjadi sejumlah orang di wilayah tsunami itu menyaksikan sejumlah gejala alam.

Misalnya ada binatang melata atau burung bangau yang hidupnya dekat dengan laut tiba-tiba melakukan migrasi. Suatu tindakan insting binatang yang tidak biasa.

Atau beberapa waktu sebelum air laut melimpah ke darat, beberapa orang yang sedang berada di tepi pantai melihat tiba-tiba air laut surut. Ikan pun menggelepar-gelepar di hadapannya.

Kedua gejala alam menjelang tsunami itu lebih kurang disikapi dalam dua bentuk.

Pertama, ada yang berfirasat bahwa ini gejala alam tidak normal. Dia seperti yakin sesuatu akan terjadi.

Kedua, sikapnya biasa-biasa saja. Sama sekali tidak memiliki sensitifitas interaktif yang dimilikinya sebagai manusia dengan alam sekitarnya.

Padahal kehidupan kita dengan alam sesungguhnya saling memberi indikasi. Persoalannya ada pada posisi menyadari atau tidak sinyal alam dalam bentuk gejala-gejala itu.

Orang Jawa termasuk salah satu penduduk Indonesia yang dekat interaksinya dengan alam. Terutama mereka yang tinggal di kampung-kampung yang dekat dengan gunung berapi.

Soal gejala alam tersebut, Usamah El-Madny melaporkan bahwa dalam sebuah keperluan ke arah barat Banda Aceh, Sabtu, 26 Juni2021, dirinya melihat begitu banyak kawanan monyet berkeliaran di atas jalan sepanjang lintasan Gunung Kulu, Paroe dan Geurutee. Lazimnya, bertahun-tahun lalu monyet-monyet itu hidup di hutan di tengah ke tiga gunung itu. Bukan di jalan.

Menurutnya, ini gejala alam menarik untuk dicermati. Ada apa dan mengapa?. Begitu kira-kira pertanyaan yang menggelayut.

Apakah ini momentum interaksi lebih dekat antara monyet dengan manusia?. Atau, dalam waktu dekat ini ada sesuatu yang akan terjadi. Dan monyet-monyet itu menjadi teliksandi untuk memberi informasi kepada masyarakat. Tapi karena kendala komunikasi, di ruas jalan itu antara manusia dan monyet masih miskomunikasi.

Tidak seperti manusia, monyet memang tidak punya otak. Sebagai penggantinya kepada makhluk ini Tuhan Yang Maha Esa mengkarunia insting.

Insting merupakan pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yang dibawa sejak lahir. Disebut juga naluri atau garizah.

Apa kira-kira pesan alam  tersembunyi yang dapat kita pahami dari gejala alam moyet di Gunung Paro — juga di Geurutee dan Kulu — yang rame-rame turun ke jalan meminta-minta itu.

Kata meminta di sini bukan mengada-ada apalagi sampai mem-bully monyet-monyet itu. Memang begitu benar adanya.

Di pinggir jalan Banda Aceh-Meulaboh, para monyet itu bukan hanya terlihat jinak. Mereka bahkan duduk bergerombol di pinggir jalan di atas besi pembatas jalan, bahkan sampai turun ke tengah jalan, dengan bahasa tubuh yang sangat komunikatif.

Melihat muka para monyet itu di wajahnya ada diaroma sebuah senyuman ramah, sekalipun tidak seindah senyuman kita. Dengan reflektif mereka serentak mengangkat tangan kanannya (sangat sopan) ketika kendaraan manusia lewat meminta sesuatu.

Ya, seperti lazimnya manusia meminta, ada yang memberi ada yang tidak. Tergantung takdir yang memayungi mereka hari itu.

Kembali kepada cerita di atas. Kira-kira apa pesan verbal alam kepada kita melalui aksi monyet turun ke jalan itu. Padahal tempatnya monyet itu di hutan di atas tiga gunung sebelah barat Banda Aceh itu.

Apakah monyet itu sedang mengingatkan kita yang dilakukannya sekalian dengan mengejek. Atau, monyet itu sedang protes kepada manusia yang melewati wilayah teritorial mereka.

Semua kemungkinan itu bisa benar dan dapat juga salah.

Pertama, bisa jadi para moyet itu sedang marah kepada kita, manusia. Kita, mereka nilai rakus. Bahkan terlalu.

Hutan-hutan yang merupakan rumah mereka yang dulu lebat dan menyimpan banyak rezeki serta makanan mereka telah kita gunduli dengan berbagai motif.

Rumah dan kampung halaman mereka telah kita rusak dan hancurkan. Maka kehadiran mereka ke jalan-jalan itu adalah manifestasi protes yang dalam bahasa sehari-hari manusia disebut demonstrasi.

Hutan sebagai rumah dan sumber makanan mereka telah kita caplok seperti Israel mencaplok Jalur Gaza.

Kedua, dapat juga monyet-monyet yang setiap hari dari pagi sampai sore hadir di jalan negara itu sedang melakukan upaya konfirmasi kepada kita, bahwa kita dengan mereka adalah bersaudara. Sebagaimana teori Darwin. Bukankah sebagian struktur tubuh kita memiliki kemiripan, dan bahkan tabiat dan akal budi kita pun kadang beririsan.

Ketiga, bisa jadi akhir-akhir ini insting monyet itu mengajar mereka bahwa mendapatkan rezeki itu tidak mesti dengan kerja keras. Dengan melompat dari pohon ke pohon seperti monyet lakukan selawit ini. Saling berebut dan menelikung sesama monyet.

Beratnya kehidupan di hutan itu, insting mereka mendorong, bahwa mencari makan dengan meminta-minta itu lebih mudah, ringan dan menjanjikan.

Tapi bila dugaan perilaku monyet ini benar, yang justru menggembirakan adalah selama melaksanakan profesi meminta-minta di pinggir jalan itu para monyet tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Bisa jadi mereka sepakat dengan semboyan: Ikhlas beramal!.

Terakhir, yang mengkhawatirkan kita terhadap monyet-monyet telah lama bermigrasi untuk mengais rezeki di sepanjang jalan lintasan Gunung Kulu, Paro dan Geurutee itu adalah perubahan gaya hidup dan selera makan para mereka.

Selama ini makanan yang dibagikan para pelintas jalan kepada monyet adalah makanan-makanan urban non buah.

Sedangkan selama ini di hutan balantara Paroe para monyet makan buah. Masalahnya adalah jika sewaktu-waktu para monyet di lintasan jalan ini harus balik ke hutan maka cita rasa lidah mereka jadi tidak cocok lagi dengan kuliner yang tersedia dan mereka makan di hutan.

Lalu apa yang dapat kita pahami dari gejala alam monyet Paroe turun ke jalan ini?.

Hanya para monyet itu yang tahu apa sesungguhnya yang ingin mereka komunikasikan dengan manusia.

Sedangkan manusia yang melintasi kerumunan monyet di jalan itu hanya mampu menduga-duga saja. Itu pun bagi yang peduli. Sedangkan yang tidak peduli biasa-biasa saja.

“Itu urusan monyet, bukan urusan gue”, mungkin begitu lebih kurang yang terbersit di hati manusia yang tidak peduli. []

  • Bagikan
# #