BSI Aceh Dapat Kuota KUR Rp 2,4 Triliun, Fokus Kembangkan UMKM

waktu baca 4 menit
CEO BSI Regional I Aceh, Wisnu Sunandar didampingi Manager Newsroom Harian Serambi Indonesia Bukhari M Ali (kiri), Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin (tengah), dan Area Manager BSI Banda Aceh Syahrial Al Rasyid (kanan) memaparkan kinerja pihaknya dalam setahun terakhir pada acara media gathering di UMKM Center, Jalan Sudirman, Banda Aceh, Kamis, 17 Februari 2022. (Foto: Humas BSI Aceh)

Theacehpost.com| BANDA ACEH – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menorehkan kinerja positif pada triwulan IV tahun 2021. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan laba bersih perseroan sebesar Rp 3,03 triliun naik 38,42% secara year on year (yoy).

Raihan ini sejalan dengan konsistensi BSI membangun pondasi dan pengembangan perbankan syariah yang berkelanjutan untuk mendukung ekosistem halal di Indonesia.

“Alhamdulillah kinerja BSI pada triwulan IV 2021 meraih capaian yang positif. Hal ini karena dukungan semua nasabah di seluruh Indonesia, khususnya dari Regional Aceh. Komitmen kami akan terus menumbuhkan industri perbankan syariah yang berkelanjutan untuk mendukung ekosistem halal di Indonesia,” ungkap Direktur Utama PT BSI, Hery Gunardi.

Hery menjelaskan, BSI akan terus berfokus pada pengembangan bisnis syariah yang berkelanjutan dan sehat, fee based dan akselerasi digital, serta membangun pondasi yang kuat untuk ekosistem halal di Indonesia dan kancah global.

Regional CEO BSI Aceh, Wisnu Sunandar menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota, DPRA/ DPRK, ulama, teungku, abu, waled, dan seluruh masyarakat Aceh yang telah mendukung dan loyal kepada BSI sejak awal terbentuk pada 1 Februari 2021 hingga sekarang.

banner 72x960

“Kami berkomitmen untuk terus melayani seluruh lapisan masyarakat sehingga keberadaan BSI dapat menjadi akses solusi keuangan syariah, khususnya masyarakat di Aceh,” ujar Wisnu saat memaparkan kinerja BSI Aceh dalam setahun terakhir pada acara media gathering di UMKM Center, Jalan Sudirman, Banda Aceh, Kamis, 17 Februari 2022.

Di usianya setahun, kinerja BSI yang disokong oleh pembiayaan yang tumbuh sehat, akselerasi digital, serta penghimpunan dana murah, cukup solid.

Capaian ini, kata Wisnu, juga didorong kinerja pembiayaan yang sehat pada segmen konsumer, korporasi kecil dan menengah, UMKM, gadai emas, dan kartu pembiayaan.

“Secara nasional, penyaluran pembiayaan BSI sepanjang 2021 mencapai Rp 171,29 triliun, naik 9,32% yoy dari sebelumnya sebesar Rp 156,70 triliun,” sebut Wisnu.

Wisnu menambahkan, khusus BSI Regional Aceh, sepanjang tahun 2021 dari sisi pembiayaan tumbuh positif sebesar Rp 865 miliar atau meningkat sebesar 6,25 %, sehingga total pembiayaan posisi 31 Desember 2021 sebesar Rp 14,7 triliun.

Pada tahun 2021, BSI Aceh diberikan target untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 1,4 triliun. Dari target itu, BSI Aceh berhasil menyalurkan Rp 1,61 triliun, di mana melebihi target yang ditentukan BSI Pusat. Untuk tahun ini, BSI Aceh mendapat kuota KUR sebesar Rp 2,4 triliun.

“Dengan penyaluran KUR untuk sektor UMKM ini, kami ingin bersinergi dan menjadi dominan sebagai kontributor untuk pembangunan ekonomi Aceh. Kami ingin berkontribusi untuk mengakselerasi pembangunan Aceh,” tegas Wisnu.

Rasio FDR pada BSI Regional Aceh pada akhir tahun lalu telah menembus 100,82%. Itu artinya dana yang terkumpul dari masyarakat, telah disalurkan kembali melalui pembiayaan dengan jumlah yang lebih besar.

Untuk itu, Wisnu mengimbau kepada masyarakat Aceh untuk terus memanfaatkan jasa layanan BSI, seperti penyimpanan dana, pembiayaan dan layanan digital. Secara yoy, Dana Pihak Ketiga (DPK) di BSI Aceh tumbuh sebesar Rp 557 miliar atau meningkat sebesar 3,97%, sehingga total DPK posisi 31 Desember 2021 sebesar Rp 14,6 triliun.

Akselerasi digital

Akselerasi digital menjadi kunci BSI untuk terus bergerak mengikuti perubahan perilaku nasabah yang serba dinamis, cepat dan aman. Hal ini terlihat dari keseriusan perseroan menggarap kanal digital BSI Mobile dan E-Channel.

Secara nasional per Desember 2021, transaksi kumulatif BSI Mobile mencapai 124,54 juta transaksi, tumbuh 169% yoy. Khusus BSI Aceh jumlah transaksi kumulatif BSI Mobile adalah 24,14 juta dengan jumlah volume sebesar Rp 46,24 trilun.

Dalam masa pembenahan setahun terakhir, kata Wisnu, BSI Aceh pada November 2021 telah melakukan penyatuan sistem, dari sebelumnya tiga sistem eks legacy dalam melakukan pelayanan transaksi nasabah menjadi single system, sehingga saat ini tidak ada lagi kendala apapun dalam bertransaksi.

Selain itu, kata Wisnu, BSI Aceh yang saat ini memiliki 700 ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di seluruh Aceh, telah melakukan penggantian terhadap 223 ATM, termasuk di dalamnya 58 mesin CRM.

Penggantian dilakukan pada mesin ATM magnetic stripe menjadi ATM Chip. Harapannya hal ini akan mencegah terjadinya skimming dan tidak ada kendala lagi dalam bertransaksi, karena semua kartu ATM pun sudah digantikan menjadi kartu ATM chip.

“Ke depan akan datang 62 mesin ATM baru, ini program di tahun 2022. Dan bisa saja terus bertambah sesuai kebutuhan,” ungkap Wisnu.

Wisnu juga menambahkan, per 31 Desember 2021, BSI Aceh telah mengakuisisi 6.867 agen BSI SMART yang sebelumnya merupakan Agen BRILink di seluruh Aceh.

Dari 6.867 agen, terdapat 4.798 agen menggunakan device BSI Smart mobile dalam bertransaksi, dan 2.069 agen mendapatkan mesin EDC baru yang bisa berfungsi untuk tarik-setor tunai, sehingga bisa digunakan untuk penyaluran bantuan sosial.

BSI yang merupakan bank devisa, juga dapat memberikan pembiayaan dalam bentuk LC (Letter of Credit) untuk para pelaku ekspor impor atau pengusaha di Aceh.

“Karena BSI bank devisa, kami bisa jual valas-nya (valuta asing), bahkan kami bisa melakukan transfer ke luar negeri dalam bentuk multi currency, misalnya tranfer mata uang dolar dikonversi menjadi mata uang negara yang dituju, jadi langsung berganti mata uang,” imbuhnya.

“BSI saat ini juga telah memiliki pelayanan kartu pembiayaan yakni Hasanah Card yang bisa digunakan di seluruh dunia untuk marchant yang berlogo Master Card. Kerennya lagi, kartu ini kalau tempat maksiat itu otomatis auto reject (tidak bisa bertransaksi), seperti di bar atau tempat-tempat negatif lainnya,” pungkasnya. []

Komentar Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *