Wasathiyah: Wajah Islam Sebenarnya

Oleh: Tgk. Khairul Badri, Lc MA

banner 72x960

Resume singkat dari diskusi pemikiran Islam bersama Dr. Amri Fatmi, MA tentang Akar Washatiyah Islam; Mempertegas Wajah Islam, yang diselenggarakan pada Jumat, 4 Desember 2020 via aplikasi Zoom.

Sejak kapan kita mendengar istilah ‘Islam wasathi’?. Istilah tersebut banyak dipopulerkan oleh para pemikir Islam setelah tahun 1970-an di dunia Arab, terutama Mesir. 

Istilah Wasathi diambil dari bahasa arab yaitu ‘wasathan’ yang juga terdapat dalam Alquran dengan istilah yang sama. Menurut mufassir, istilah tersebut memiliki makna yaitu umat yang memiliki sikap adil dan terefleksikan pada perbuatan. 

Wasathan itu identik dengan orang shaleh, ada juga yang memaknainya yaitu pertengahan antara dua hal. Sekalipun makna terakhir ini kurang tepat untuk makna washatan.

Ikut disorot juga tentang penerjemahan Islam wasathi dalam bahasa Indonesia dengan Islam moderat. Beliau melihat kita terjemahkan dengan moderat kurang bijak. Kalau Islam Moderat dimaknakan dan diinginkan sebagai islam yang modernis, maka modern istilah yang punya subtansi makna; pemakaian logika, science, teknologi, dalam menyelesaikan masalah hidup manusia.

Kalau tidak ada salah satu dari 3 hal tadi tidak dianggap makna modern ddalam pemahaman istilah modern dalam sejarah barat.

Tentu aib besar apabila istilah modern itu tidak termasuk makna norma akhlak dan keyakinan. Jadi bagaimana mungkin kita memaknakan Islam itu dengan makna moderat. Jelas akan paradoks. Jadi hargailah makna asli bahasa Arabnya dengan membiarkan pada istilah wasathi tanpa perlu menerjemahkan ke dalam bahasa lain. Itu lebih baik bijak dan tepat.

Islam tidak melarang menggunakan logika, sains dan teknologi. Islam mengakomodir itu semua, dan yang paling penting adalah Islam selalu membawa nilai akhlak dalam semua tindakan. Akhlak itu yang luput. Sedangkan Barat tidak membawa akhlak dalam kemajuan logika, sains dan teknologi.

Kita ini tampak merasa inferior dengan khazanah ilmu dan pemikiran Islam. Untuk memakai istilah tertentu, kita transit dulu ke Barat, padahal dalam khazanah ilmu kita ada istilah tersebut, kenapa tidak langsung kita pakai istilah yg ada literature kita.

Oleh karena itu, walaupun bisa jadi istilah Islam moderat, atau moderasi Islam adalah sesuatu yg bermakna positif, tapi alangkah baiknya kita pakai langsung istilah wasathiyah Islam, karena istilah ini berasal dari Alquran.

Imam Abu Hasan Asy’ari hidup pada zaman di mana perkembangan logika dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Serta Muncul beragam macam sekte pemikiran seperti muktazilah, musyabbihah, syiah, dan sebagainya.

Beliau mampu membela pemahaman salaf dengan menggunakan logika yang beliau bangun dengan manhaj wasathi saat menengahi antara manhaj berpikir muktazilah dan musyabbihah, antara jabariyah dan qadariyah, antara murjiah dan khawarij. 

Misalnya dalam masalah sifat Allah, ada mazhab yang menetapkan adanya sifat Allah seperti makhluk, ada juga mazhab yang menegasikan adanya sifat Allah. Maka Abu Hasan Asy’ari mencari metode lain yang menengahi kedua pendapat yang ekstrem ini. 

Menurutnya, Allah ada ilmu tapi bukan seperti ilmu makhluk, Allah ada qudrah tapi bukan seperti qudrah makhluk, Allah ada sama’ tapi tidak sama dengan sama’ makhluk. Demikian juga dalam masalah perbuatan manusia apakah hasil dari ciptaan Allah atau ciptaan manusia. 

Jahan bin Shafwan mengatakan Manusia tidak ada daya apa-apa dalam perbuatannya, dan tidak mampu melakukan kasab terhadap sesuatu. Sebaliknya Muktazilah menyatakan manusia sendiri menciptakan perbuatannya. 

Kemudian Abu Hasan Asy’ari memilih jalan tengah bahwa manusia berbuat dengan kuasa dari Allah tidak mennciptakan perbuatannya karna Allah pencipta segala sesuatu, namun ia memiliki kasab dalam perbuatannya. Dengan itu ia bertanggung jawab atas perbuatannya.

Imam Abu Hasan berhasil menegaskan bahwa logika berfungsi menjaga akidah dan memeliharanya dari penyimpangan. Sehingga pengikut imam seperti Al Baqillani, al-Juwaini dan Al-Ghazali telah berhasil mempraktekkan manhaj ini dalam konstruksi ilmu Tauhid Ahlusunnah waljamaah.

Dalam bentangan beliau juga disampaikan bahwa sikap wasathi bukan dalam ranah pemikiran saja tapi dalam menjalankan Islam juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari hari.

Orang yang tidak mengindahkan perintah shalat itulah sikap ekstrim. Orang yang melakukan shalat meninggalkan pekerjaan hari hari itulah ekstrim. Yang wasathi sesuai perintah Allah, shalat dijaga, pekerjaan harian tertunaikan.

Dalam menjawab pertanyaan yang antusias ditanyakan oleh peserta webinar, tentang bagaimana cara mendakwahkan manhaj wasathi dikalangan milenial dan masyarakat, dijelaskan bahwa manhaj wasathi dalam mengamalkan islam harus didakwakan dengan menghargai dan menyadari perbedaan ada di antara kita dalam memahami Islam. 

Perbedaan ini dihargai lalu setiap pihak siap mendiskusikan dan berhiwar (diskusi) secara bijak dalam perbedaan antara kita, saling ingin memahami pihak lain, tidak dipersekusi apa yang menyimpang dari pemahaman Islam yang hanif diperbaiki secara ilmiah dan bijaksana. Dijelaskan penyimpangannya, tidak membenci pribadi apalagi memunculkan permusuhan. 

Metode demikian dipraktikkan oleh Abu Hasan Al Asy’ari dalam hidup beliau. Kalau Abu Hasan tidak mendalami pemikiran muktazilah, musyabbihah, mujassimah, jahmiyah dan beragam sekte pemikiran Islam dimasa beliau maka beliau tidak akan mampu mencari manhaj wasathi dalam memahami Islam. Tidak akan kita dengar manhaj ahlussunah seperti saat ini. 

Manhaj wasathi Abu Hasan adalah solusi paling bijak dari permasalahan perbedaan pendapat yang berkecamuk di masa beliau. Lalu manhaj Abu Hasan diteruskan oleh ulama pengikut beliau seperti Al Ghazali yang mendalami sekte Bathiniyah di masa beliau lalu beliau menulis bantahan pada pemikiran mereka dalam kitab Fadhaih Bathiniyah. 

Beliau mendalami pemikiran falasifah dalam kitab maqashid falasifah. Lalu beliau membantah penyimpangan pemikiran mereka dalam kitab tahafut Al falasifah.

Dengan demikian, segala pemikiran yang ekstrim dikalangan masyarakat terjawab dan tidak mampu hidup lagi setelah masanya walau literatur mereka masih dibaca. Tapi, teka-teki pemikiran sudah terjawab dengan manhaj Ahlusunnah yang wasathi. Betapa berhajatnya kita pada manhaj ini untuk kita aplikasikan saat ini, pungkas beliau.

Wallahu ‘alam.

Komentar Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *