Mitigasi Gempa Aceh Harus Disegerakan

Baru-baru ini, masyarakat Aceh kembali dikagetkan oleh gempa yang mengguncang Banda Aceh dan Aceh Besar. Tak hanya itu, 53 gempa susulan terjadi hingga 2 April 2025.

banner 72x960

Kejadian ini mengingatkan kita bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang indah, tapi juga berada di garis depan ancaman gempa bumi. Sejarah panjang bencana, dari gempa dahsyat hingga tsunami, seharusnya membuat mitigasi bencana menjadi prioritas mutlak.

Namun, apakah kita benar-benar belajar dari pengalaman? Kesiapsiagaan terhadap gempa di Aceh masih jauh dari kata ideal. Bangunan tahan gempa belum menjadi standar umum, sistem peringatan dini masih terbatas, dan kesadaran masyarakat pun sering kali masih rendah. Seolah-olah, kita hanya waspada ketika bencana sudah terjadi.

Jika kita tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin Aceh akan menghadapi skenario serupa. Pemerintah harus serius dalam membangun infrastruktur tahan gempa, bukan hanya wacana dan proyek seremonial.

Simulasi bencana harus menjadi budaya, bukan sekadar agenda tahunan. Dan yang terpenting, masyarakat harus sadar bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Sebagai peringatan nyata, pada 28 Maret 2025, gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar dan Thailand. Di Myanmar, lebih dari 3.000 orang meninggal dunia, dan ribuan lainnya terluka. Kota Mandalay dan Naypyidaw mengalami kerusakan besar, dengan banyak bangunan yang runtuh akibat lemahnya standar konstruksi.

Sementara itu, di Bangkok, Thailand, sebuah menara 30 lantai ambruk, menewaskan setidaknya 29 orang dan melukai puluhan lainnya. Pemerintah Thailand bahkan sampai harus menginspeksi ulang ribuan gedung tinggi untuk memastikan keamanannya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Asia Tenggara, termasuk Aceh, terhubung dalam satu sistem tektonik yang saling mempengaruhi. Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Burma terus bergerak, menciptakan tekanan yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk gempa besar.

Bencana di Myanmar dan Thailand bukan sekadar berita dari negara tetangga—ini adalah alarm bagi kita. Aceh harus segera mengambil langkah konkret sebelum terlambat. Kita tak bisa terus berpangku tangan dan berharap yang terburuk tak terjadi.

 

Komentar Facebook