Kisah Nek Buyong di Ujong Peunayong

Barlian AW

Catatan Barlian AW

MALAM bergerak tertatih ketika sekelompok lelaki beranjak dari pangkalan penambatan kapal penangkap ikan di tempat  agak ke muara sungai. Mereka menuju  ke lokasi sekitar  jembatan yang membentang di atas Sungai Aceh. Konon ada sesuatu di sela-sela bangunan tua di belakang ruko berarsitektur Tiongkok itu.

Nek Buyong. Itulah yang dicari empat lelaki pelaut itu. Meski Buyong atau Buyung tertakluk namanya pada sosok lelaki, tapi Buyong yang satu ini adalah seorang wanita tulen. Wanita tua bahkan tergolong renta, tapi punya pesona. Kira-kira usianya  di atas lima puluh tahun. Meski tua dia dicari dan “diburu” para lelaki kala itu, terutama mereka yang sudah lama—karena pekerjaannya—tak sempat pulang menemui istri masing-masing. Nun jauh di sana.

Untuk hal  yang satu ini Nek Buyong-lah yang bisa menyelesaikannya. Di awal dan di paruh dekade  tujuh puluhan namanya beredar di se-antero Banda Aceh. Paling tidak di kalangan para lelaki hidung belang.  Mereka adalah costumer Nek Buyong, perempuan yang selalu tampil dengan make up tebal:  bedak, gincu, dan cat kuku. Dia hadir bersama tambatan pesona  malam.

Nek Buyong memilih tempat tinggalnya konon di salah satu bangunan tua di bantaran Krueng Aceh yang sesekali berbau anyir. Ke sebuah lorong sempit yang melengkapi ciri khas Peunayong itulah menjadi titik tuju para lelaki pemburu kehangatan malam usai melaut. Tapi dimana persisnya Nek Buyong “berkantor” dan menunggu tamunya, sedikit sekali yang tahu. Umumnya orang-orang sekitar hanya tahu bahwa Nek Buyong adalah “penghuni” Peunayong.

Di Peunayong yang jadi kawasan bisnis dan jasa kini terdapat barisan toko berbagai kebutuhan, pasar, kawasan kuliner serta hotel, mulai dari penginapan kecil  sampai berbintang. Sebagian masih terdapat bangunan tua berarsitektur Tiongkok.  Di Peunayong pulalah kaum Cina Banda Aceh menggelar usaha dan memilihnya sebagai tempat tinggal. Letaknya berseberangan dengan pusat kota Banda  Aceh yang sesungguhnya, Pasar Aceh.

Ada yang menyangka kata Peunayong erat kaitannya dengan keberadaan kaum Cina yang menjadi penghuninya. Ragam dan aksen bunyi katanya juga mirip-mirip bahasa Mandarin. Padahal Peunayong jauh dari kisah di masa kedatangan kaum Cina ke Aceh yang kini menjadi penduduk Peunayong.

Menurut para sejarawan, Peunayong berasal dari kata dasar Payong atau Payung. Ini bermula dari masa kejayaan Kerajaan Aceh pada abad ke-16 Masehi.

Konon, ketika orang-orang luar yang datang ke Aceh, baik mereka yang  ingin menghadap Raja, ingin berdagang atau mau menetap di Aceh, ada satu aturan. Mereka tidak boleh langsung masuk ke “dalam” tetapi harus melewati  satu kawasan di sisi  perairan sungai untuk menempati hunian sementara. Mereka yang datang ke Aceh itu tentu dari berbagai bangsa: Eropa, Cina, Hindi, Siam, atau Persia.

Di kawasan itu mereka dibenarkan untuk hidup bebas sesuai dengan tradisi masing-masing sepanjang tidak melakukan keonaran dan mengganggu kaum pribumi. Hanya di sebuah kawasan kira-kira 300 hektare ini—meski orang asing—mereka mendapat perlindungan atau dilindungi atau dipayungi. Dalam istilah Aceh kawasan yang dipayungi itu disebut Peunayong, yaitu perubahan bunyi dari Peunayong.

Dalam konteks politik negara modern sekarang ini, Peunayong disebut Wilayah Protektorat dengan ketentuan: Orang dan kawasannya diproteksi.

Dalam sistem negara-negara modern kita mengenal adanya negara jajahan dan negara protektorat. Tanah Melayu, Singapura, Australia, dan Brunei pernah menjadi protektorat British sampai tahun delapan puluhan. Kalau di sana yang diproteksi adalah negara dan rakyatnya, sedangkan di Peunayong dulu diproteksi atau dipayungi ialah orangnya yang datang ke Aceh secara legal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

Sudah ditampilkan semua