Kemenkes Terapkan Inovasi Teknologi Wolbachia untuk Turunkan Penyebaran DBD

Foto ilustrasi Kemenkes DBD

Theacehpost.com | BANDA ACEH – Kementerian Kesehatan menerapkan inovasi teknologi wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.

Teknologi ini telah terbukti efektif menurunkan kasus DBD hingga 77% di Yogyakarta pada tahun 2022.

Wolbachia adalah bakteri yang hidup di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk. Bakteri ini tidak dapat bertahan hidup di luar sel tubuh serangga dan tidak bisa mereplikasi diri tanpa bantuan serangga inangnya.

Di Indonesia, teknologi wolbachia yang digunakan, diimplementasikan dengan metode “penggantian”, dimana baik nyamuk jantan dan nyamuk betina wolbachia dilepaskan ke populasi alami.

Tujuannya agar nyamuk betina kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan anak-anak nyamuk yang mengandung wolbachia. Pada akhirnya, hampir seluruh nyamuk di populasi alami akan memiliki wolbachia.

Wolbachia berperan dalam memblok replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Akibatnya nyamuk yang mengandung wolbachia, tidak mampu lagi untuk menularkan virus dengue ketika nyamuk tersebut menghisap darah orang yang terinfeksi virus dengue.

“Pendekatan wolbachia telah terbukti mengurangi secara signifikan kejadian penyakit demam berdarah dan kebutuhan rawat inap bagi penderita penyakit tersebut,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), dr Imran Pambudi.

“Angka kejadian DBD di Indonesia masih tinggi dengan angka kematian yang tinggi terutama pada kelompok anak-anak, selain itu masih banyak daerah yang melaporkan kejadian luar biasa akibat DBD. Ini akan menyelamatkan anak anak kita ke depannya,” tambahnya.

Efektivitas pemanfaatan teknologi wolbachia untuk menurunkan kejadian demam berdarah juga sudah dibuktikan di 13 negara lain, yaitu di Australia, Brazil, Colombia, El Salvador, Sri Lanka, Honduras, Laos, Vietnam, Kiribati, Fiji, Vanuatu, New Caledonia, dan Meksiko.

Di Indonesia, teknologi wolbachia akan diterapkan di lima kota, yaitu Kota Semarang, Kota Jakarta Barat, Kota Bandung, Kota Kupang, dan Kota Bontang. Implementasi akan dimulai pada tahun 2024.

“Kami berharap teknologi wolbachia ini dapat menjadi solusi yang efektif dalam pengendalian DBD di Indonesia,” ujar dr Imran.

Beberapa keunggulan teknologi wolbachia yaitu efektif menurunkan kasus DBD hingga 77%, dampak perlindungan yang bersifat berkelanjutan, tidak memerlukan rekayasa genetika, dan aman bagi manusia dan lingkungan

Teknologi wolbachia diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka kejadian DBD di Indonesia. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *