Habib Bugak Al-Asyi Disebut Bukan Ahlul Bait, Forum Keluarga: Menyesatkan Orang Aceh untuk Membenci Keturunan Nabi

Forum Keluarga Besar Habib Bugak, Said Muhajir bin Mahmud Al-Habsyi (kiri) dan Zulkifli Al-Habsyi (kanan) saat berkunjung ke Kantor Theacehpost.com, Rabu (5/6/2024) sore. [Foto: Istimewa]

THEACEHPOST.COM | Banda Aceh – Pasca terbitnya artikel opini di Serambinews.com yang ditulis oleh Prof Alyasa’ Abubakar, seorang Dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, dengan judul “Baitul Asyi dan Jamaah Haji Aceh”, tulisan opini itu mendapat sanggahan keras dari Forum Keluarga Besar Habib Bugak.

Dalam artikel opini berkarakter seribu kata lebih itu, Prof Alyasa’ menyatakan bahwa asal usul Habib Bugak Al-Asyi bukanlah sosok keturunan habib atau yang memiliki hubungan nasab dengan Nabi Muhammad Saw.

Prof Alyasa’ mengatakan, Habib Bugak Al-Asyi merupakan nama dari seorang dermawan. Habib adalah namanya , sementara Bugak adalah nama bapaknya, sehingga namanya Habib bin Bugak.

Argumen Prof Alyasa’ ini ia yakini setelah meneliti akta ikrar wakaf yang ditulis pada tahun 1222 H (sekitar 1808 Miladiah, sebelum Aceh dijajah Belanda). Karena pada akta ikrar wakaf itu, tersebut nama Habib bin Bugak atau dalam bahasa Arabnya disebut Habib bin Buja’.

Dengan kata lain, Prof Alyasa’ meyakini bahwa Habib Bugak Al-Asyi bukanlah nama lain dari Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi seperti yang dikenal oleh masyarakat Aceh selama ini.

Ketua Forum Keluarga Besar Habib Bugak, Said Muhajir bin Mahmud Al-Habsyi menegaskan, polemik yang mempersoalkan asal usul Habib Bugak Al-Asyi bukan seorang habib atau sosok yang memiliki hubungan nasab dengan Nabi Muhammad Saw adalah kekeliruan yang sengaja dibuat-buat untuk memalsukan sejarah

Dan bukan kali ini saja, kata dia, soal wakaf Habib Bugak terdapat berbagai hal yang ingin menguasai wakaf tersebut dalam berbagai hal. Bahkan ada dari pemerintah pusat, termasuk Pemerintah Aceh. Namun otoritas Pemerintah Arab Saudi yang mengurusi wakaf, tidak memberi ruang selain seperti tertulis di naskah ikrar wakaf.

Said menjelaskan, sekarang ini ada sebuah Yayasan, yang namanya agak samar-samar hampir serupa dan ada dugaan menyusup ke pihak otoritas haji dan umrah di Aceh, juga terkesan dimanfaatkan oleh oknum pengurus Yayasan untuk mengarahkan hasil wakaf Habib Bugak yang diserahkan ke jamaah haji asal Aceh.

Dan ada kampanye hitam yang diduga berafiliasi dengan yayasan baru itu, mengatakan bahwa, bukan wakaf Habib Bugak, Baitul Asyi itu milik kerajaan semasa Sultan Iskandar Muda. Ini semakin jauh permainan dan penyesatannya.

“Baitul Wakaf Habib Bugak itu jelas wakaf dari Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi dan itulah nama lain si wakif di naskah ikrar wakaf. Habib adalah gelar. Bugak dan Al-Asyi adalah nama daerah asal, dan itu sudah hal biasa dan ma’ruf bagi santri tsanawiyah yang belajar ilmu nahwu, gramatika atau sintaksis dasar bahasa Arab,” ujar Said Muhajir, saat berkunjung ke Kantor Theacehpost.com, Banda Aceh, Rabu (5/6/2024) sore.

Sebagai contoh yang berlaku di Arab dan di Aceh,  bahwa nama daerah dan nama marga jauh lebih dikenal, ada Imam Bajuri, sebuah desa bernama bajur di bagian utara Mesir.  Padahal nama lengkap asli Ibrahim bin Muhammad Al Bajuri.

Begitu juga imam Bukhari berasal dari daerah Bukhara yang terletak daerah Transoxiana, sebuah daerah di Tajikistan-Turkmenistan. nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ismail Al Bukhary tapi yang terkenal nama kampung, dan di manuskrip kitabnya juga nama kampung asal.

Begitu juga sejumlah nama habaib, seperti Teungku Chik di Anjung, nama asli Sayid Abu Bakar bin Hussein Bilfaqih. Juga ulama Aceh selalu ma’ruf dengan nama asal daerah, ada Abu Krueng Kalee, Abu Keuniree, Abu Paya Pasi dan sejumlah tokoh lainnya.

“Kembali Ke Habib Bugak, jadi itu nama gelar kehormatan untuk Abdurrahman karena memiliki hubungan nasab dengan Nabi Muhammad Saw, Habib itu bukan nama orang. Bugak juga adalah nama tempat, bukan nama orang,” jelas Said Muhajir.

Said Muhajir menambahkan, menurutnya alasan Habib Bugak Al-Asyi menuliskan namanya sebagai Habib bin Bugak atau dalam bahasa Arab disebut Habib bin Buja’ di akta ikrar wakaf karena Habib Bugak Al-Asyi ingin menyamarkan namanya ketika berbuat baik untuk umat.  Keadaan itu berlaku juga di sejumlah manuskrip kitab ulama klasik, bahkan ada yang hanya menulis Al Faqir Ilallah.