20 Tahun Tsunami Aceh: Kisah Delisa Fitri Rahmadani, Penyintas Tsunami yang Menginspirasi
THEACEHPOST.COM | Banda Aceh – Seorang wanita berbusana putih dengan kerudung berwarna coklat melangkah perlahan menaiki panggung utama. Semua mata tertuju padanya, mengiringi langkah kecilnya dengan penuh perhatian.
Pada peringatan 20 tahun tsunami Aceh yang dilaksanakan di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (26/12/2024), Delisa Fitri Rahmadani, berdiri di hadapan ribuan hadirin untuk berbagi kisah menyentuh hati. Sebuah kisah yang pernah dialaminya 20 tahun silam.
“Saya Delisa, saya penyintas tsunami,” ucapnya dengan senyum lembut.
Delisa kini berusia 27 tahun, saat gelombang tsunami menerjang Aceh, usia Delisa kala itu berusia tujuh tahun. Ia tinggal bersama ibu dan kakaknya di kawasan dekat dengan pesisir pantai, tepatnya di Ulee Lheue, Banda Aceh. Sementara ayah kandungnya sedang berada di Jakarta.
Gelombang raksasa setinggi tiga pohon kelapa menyapu habis rumah mereka. Delisa bersama ibu dan kakaknya berusaha menyelamatkan diri dari gelombang tsunami yang airnya berwarna hitam pekat.
Namun dalam upaya menyelamatkan diri itu, Delisa harus terpisah dengan ibu dan kakaknya. Delisa berhasil selamat dengan bertahan di atas sepotong kayu yang terbawa arus tsunami. Ia dibawa hanyut sejauh delapan kilometer dari rumahnya, hingga berakhir di Lamteumen, Banda Aceh.
Di Lamteumen, Delisa diselamatkan oleh seorang warga setempat yang bernama Pak Didi. Situasi saat itu benar-benar darurat, Delisa dirawat seadanya.
Hingga hari kelima pasca bencana, tersiar kabar bahwa Rumah Sakit Kesehatan Daerah Militer (Kesdam) kedatangan bantuan tenaga medis. Namun sayang, kondisi kaki Delisa sudah mulai membusuk dan harus segera diamputasi.
“Allah maha baik dan penyayang,” ungkap Delisa bersungguh-sungguh. Rupanya Ayah Delisa yang ada di Jakarta telah kembali pulang ke Aceh pada hari kedua pasca tsunami, dan mencoba mencari anggota keluarganya.
“Allah maha baik, saya dipertemukan dengan ayah saya,” ujar Delisa.
Pertemuan dengan ayahnya membuka harapan dan kekuatan baru, namun ia masih merasakan kehilangan mendalam.
“jasad ibu dan kakak saya sampai dengan hari ini tidak dapat ditemukan,” suaranya terdengar parau.
“Namun Allah maha baik, saya mendapatkan pengganti ibu saat ini yang sama baiknya dengan ibu kandung saya. Ayah saya telah meninggal dunia di tahun 2015. Saat ini saya berjuang bersama dengan ibu sambung saya,” ungkap Delisa.
Delisa kehilangan kakinya dalam musibah tsunami. Ia menjalani amputasi kaki sebanyak tiga kali. Kini Delisa menggunakan kaki prostetik yang menurutnya lebih ringan dan enteng. Luka fisik tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang.
Trauma, Kebangkitan dan Berdamai dengan Diri Sendiri
Pasca 20 tahun tsunami Aceh, Delisa mengakui bahwa dirinya masih dalam tahap pemulihan trauma dan berdamai dengan diri sendiri.
Ketika gempa terjadi, Delisa masih merasakan trauma masa lalu, dimana kakinya tidak dapat digerakkan untuk beberapa detik.
“Saya tidak sendirian, banyak korban lainnya memiliki trauma yang sama. Bahkan sampai dengan hari ini masih ada yang belum berani pulang ke Aceh,” ungkap Delisa.
Menurutnya, penanggulangan trauma sangat penting diperhitungkan dalam sebuah mitigasi bencana, agar semua penyintas dapat bangkit kembali.
Dalam kesempatan tersebut, Delisa menyampaikan pesan menyentuh.
“Saya yatim piatu, dan saat ini penyandang disabilitas. Saya tidak pernah menyerah, ada kekuatan yang saya dapati melalui mereka yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada saya,” ungkapnya.
Kisah Delisa Fitri Rahmadani menjadi simbol ketangguhan, harapan dan inspirasi bagi mereka yang mendengarkan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa di atas puing kehancuran masih ada harapan untuk melangkah maju ke depan. (Akhyar)
Baca berita The Aceh Post lainnya di Google News dan saluran WhatsApp