Opini  

Tu Sop Berpeluang Jadi Gubernur Aceh

Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab (Tu Sop)

Oleh: Tgk Fajri M Isa, Dewan Pemuda Partai Adil Sejahtera Aceh (PAS Aceh)

Lembaga Survey e-Trust beberapa waktu lalu mempublikasi hasil survey tokoh-tokoh yang menduduki tingkat elektabilitas (tingkat keterpilihan) paling tinggi di Aceh jika maju sebagai calon Gubernur pada tahun 2024 nanti. Tidak ada hal yang luar biasa dalam survey ini kecuali munculnya nama Tu Sop Jeunieb, Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) dalam posisi nomor tiga dengan elektabilitas tertinggi.

Sementara dua nama teratas adalah politisi kawakan yang sudah malang melintang di jagat politik Aceh dan nasional. Nama mereka telah dikenal secara luas sebagai politisi karena menduduki jabatan strategis di ruang publik. Politisi dengan elektablitas tertinggi adalah M. Nasir Djamil. Politisi yang telah menduduki kursi DPR RI empat periode ini telah dikenal secara luas karena sangat sering tampil di televisi-televisi nasional berbicara berbagai isu kebangsaan.

Sementara nama yang kedua Muzakkir Manaf atau Mualem. Sosok ini tentu memiliki elektablitas tertinggi karena merupakan mantan kombatan yang dikenal secara luas di Aceh. Ia juga pernah menduduki posisi sebagai Wakil Gubernur Aceh, dan menjabat sebagai Ketua KONI Aceh serta juga sebagai Ketua Umum Partai Aceh, dan Komite Peralihan Aceh (KPA).

Munculnya nama Tu Sop yang berada di bawah M. Nasir Djamil dan Mualem tersebut diketahui dari survei ‘Preferensi Masyarakat Aceh jelang Pileg dan Pilkada Serentak 2024’ yang dilakukan Lembaga e-TRUST melalui Program DISIPADA atau Digitalisasi Sistem Informasi Pemilu dan Pilkada. Hasil survei itu dipaparkan dalam Media Briefing di Hotel Ayani, Banda Aceh, Jumat (9/12/2022), sebagaimana dimuat di Koran Harian Serambi Indonesia pada 12 Desember 2022 lalu.

Dari 1200 yang disurvey, yang terdiri dari 55 persen responden pria dan 45 % wanita, dengan proporsi milenial 82 %, dewasa 12 % , dan lansia 6 %.  Maka hasil survey ini melaporkan bahwa pada pertanyaan terbuka, elektabilitas Nasir Djamil tertinggi yaitu 13,56 % , urutan kedua Muzakir Manaf 11,09 % , dan ketiga Tu Sop 6,57 % .

Sementara itu, disebutkan juga oleh ketua lembaga survey e-Trust, Aulina Adamy bahwa hasil survey ini juga menemukan terdapat 40 persen masyarakat Aceh yang masih belum menentukan pilihan ke cagub lainnya sebagaimana hasil survey ini juga disiarkan di banyak media online.

Tu Sop bukanlah tokoh yang memiliki jabatan publik di Aceh. Jabatan yang beliau emban saat ini hanya ketua di organiasi ulama dayah, yaitu Ketua HUDA sebagaimana disebutkan di awal. Tu Sop pernah maju sebagai calon Bupati Bireuen, tapi qadarullah beliau gagal di Bireuen dengan sebab yang sama-sama kita pahami. Hal yang membuat nama Tu Sop menduduki posisi tokoh dengan elektablitas tertinggi ketiga agaknya karena beliau selalu hadir bersama ummat, walaupun beliau bukan politisi dan juga bukan pejabat yang diamanahkan untuk mengurus rakyat.

Tu Sop tidak terpengaruh dengan kegagalan dalam Pilkada Bireuen. Dalam kapasitasnya sebagai ulama, beliau terus menerus hadir ke tengah-tengah rakyat Aceh. Bukan saja intensitas ceramah dan pengajian Tu Sop yang sangat dominan dan meliputi berbagai wilayah di Aceh, tapi juga aksi-aksi sosial beliau melalui lembaga filantropi yang di”imami”nya, yaitu Barisan Muda Ummat (BMU) yang sudah banyak membangun rumah-rumah kaum dhuafa di Aceh. Pembangunan rumah oleh BMU tersebut dilakukan dengan penggalangan dana dari jama’ah Tu Sop dan rakyat Aceh umumnya serta dikoordinir oleh Abiya Rauhul dan tim yang merupakan murid-murid Tu Sop.

Jadi dengan masuknya nama Tu Sop yang memiliki nama lengkap Tgk H Muhammad Yusuf A. Wahab membuat hasil survey ini menarik dibaca ulang. Selain itu, terdapatnya 40 persen suara yang mengambang membuat persaingan dalam Pilkada Aceh di 2024 nanti akan menjadi lebih kompetitif. Artinya semua bakal calon akan memiliki peluang memenangkan Pilgub Aceh jika berhasil meraih 40 persen suara mengambang tersebut. Tapi siapa yang akan bisa meraihnya ?

Dalam konteks ini, nama Tu Sop Jeunieb memiliki peluang besar untuk mendapatkan suara massa yang mengambang yang jumlahnya sangat besar tersebut. Jika Tu Sop Jeunieb yang belum menyatakan diri akan maju saja namun elektablitasnya berada di urutan ketiga, agaknya peringkat ini akan naik dratis jika beliau sudah mulai mengirim sinyal akan bersedia maju.

Survey yang dilakukan e-Trust ini juga mengatakan bahwa 66 persen responden memilih seorang Gubernur karena kecerdasannya dan 7,55 persen karena seorang ulama. Jika ini temuannya, maka Tu Sop akan memenuhi kedua aspek ini. Pertama Tu Sop jelas seorang ulama, dan yang kedua, Tu Sop juga memiliki kecerdasan yang mumpuni. Hal ini bisa dilihat atau didengar saat beliau berbicara.

Dalam banyak forum, setelah Tu Sop berbicara maka banyak audiens akan terpengaruh dengan narasi Tu Sop. Banyak tokoh yang memuji narasi Tu Sop. Bahkan, Fachry Aly pernah mengatakan bahwa jika Tu Sop ini berdomisili di Jakarta, maka Tu Sop akan menjadi seperti sosok Jusuf Kallah. Hal ini diutarakan Fachry Aly sesuai beliau mendengar pemaparan Tu Sop.

Jadi, jika Tu Sop telah menyatakan diri akan maju, maka kecerdasan Tu Sop nantinya akan lebih dikenal ketimbang sekadar figur seorang ulama. Selama ini figur Tu Sop dan reputasi beliau dengan massanya mungkin hanya dikenal karena beliau sebagai ulama, bukan karena kecerdasan dan narasinya. Padahal, Tu Sop bukan hanya ulama, tapi juga figur yang cerdas. Alhasil, merujuk pada aspek penilaian pemilih di Aceh yang mayoritasnya memilih karena kecerdasan, maka Tu Sop pasti akan masuk dalam semua aspek ini.

Jadi, Tu Sop akan memiliki nilai plus karena selain cerdas, juga ulama. Alhasil, Tu Sop sangat berpotensi mengambil mayoritas suara massa yang mengambang yang mencapai 40 persen tersebut.Tapi apakah Tu Sop benar-benar akan menyatakan kesiapannya untuk maju dalam Pilgub Aceh tahun 2024 nanti? Ini menarik ditunggu.

Sementara waktu belum ada keterangan apapun tentang kesiapan Tu Sop. Alih-alih bekerja mempersiakan Pilgub 2024, Tu Sop justru terus menerus dalam kegiatan dakwah yang tak pernah henti. Kegiatan mulia yang telah dilakoninya sejak dahulu kala dimana Tu Sop mewarisi kerja mulia dari sang ayah yang juga seorang ulama.

Jika kelak Tu Sop menyatakan akan maju, maka tantangan pertama yang akan dihadapi adalah adanya pandangan sekuleristik warisan Snouck Hugronje yang melihat ulama/agamawan tidak boleh berpolitik. Padahal itu adalah pandangan yang tidak berasal dari Islam. Sejarah Islam menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sukses dalam sejarahnya adalah kepemimpinan yang dapat memimpin dengan konsep Islam. Jadi, Kita menanti bagaimana tanggapan dari guru kita yang mulia Tu Sop Jeunib.