Tiktok di Masjid Raya

  • Bagikan
Usamah El-Madny

Catatan Usamah El-Madny*)

SELALU ada kontroversi dalam hidup ini. Dari sejak Kakek Adam alaihissalam sampai hari ini.

Yang membedakannya hanya interval radius dari titik episentrum sebuah kontoversi. Yang membuatnya lain hanya sebaran dan jangkauan daya sebar dari sebuah kontroversi yang ada.

Dulu, sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti hari ini, kontroversi yang ada terlokalisir secara alami. Dewasa ini justru dalam hitungan detik dengan dukungan teknologi informasi terutama via medsos  sebarannya menjangkau berbagai penjuru mata angin. Segera mengglobal dan viral.

Misalnya kontroversi artis kampungan yang menjadikan Masjid Raya Baiturrahman — masjid kebanggaan masyarakat Aceh —- sebagai latar belakan konten video TikTok mereka.

Untuk sekadar diketahui TikTok atau juga dikenal dengan Douyin adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, sang pendiri Toitiao. Aplikasi ini membolehkan para  pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri.

Tindakan membuat video TikTok menggunakan latar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan konten kurang baik rupanya bukan sekali. Telah dilakukan beberapa kali oleh oknum yang berbeda.

Protes dan keberatan pun datang dari berbagai pihak. Protes dan keberatan dimaksud sangat mudah dilacak di medsos.

Pihak yang protes dan keberatan alasannya nyaris sama: Mecemari keagungan masjid kebanggaan orang Aceh itu dengan konten TikTok yang tidak etis.

Misalnya, kontek TikTok itu lebih kepada mempertontonkan lekuk tubuh wanita yang menggerak-gerakkan tubuhnya dengan eksotis yang jauh dari nilai-nilai spiritualisme di lingkungan masjid. Atau memang artis TikTok itu laki-laki, tapi sekali lagi, kontennya tidak layak di lingkungan masjid.

Sebenarnya yang menjadi kontroversi bukan pada pembuatan video TikTok mengambil lokasi di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman. Yang memicu kontroversi justru pada isi TikTok yang oleh mainstream masyarakat Aceh dianggap tidak layak. Baik dalam konteks tempat maupun budaya dan tradisi yang terus dirawat masyarakat Aceh.

Kita yakin kalau konten TikTok —- misalnya salawatan, kultum, puisitasi religius, atau  sejenisnya —- dengan mengambil latar Masjid Raya Baiturrahman pasti tidak memicu kontroversi. Bahkan menjadi media promosi Masjid Raya Baiturrahman sebagai objek wisata spritual ke berbagai belahan dunia.

Tapi itulah yang namanya wilayah publik dengan karakter masyarakat kita yang beragam. Dan dari semua video TikTok yang sempat beredar itu dibuat oleh orang Islam. Aceh lagi. Tidak ada yang dari luar.

Bila kita sepakat dengan pelaku yang kita sebut di atas —- pelakunya “orang kita” —- maka postulatnya sederhana. Pelakunya tidak berpendidikan, mungkin tidak berakhlak, dan tentunya tidak punya wawasan yang memadai terkait kearifan lokal, tradisi serta budaya yang ada di wilayah ini.

Dengan kapasitas kepala dan hatinya yang demikian, maka para pelaku TikTok itu tidak ada beban apapun. Ya, untuk kepentingan konten mereka dapat melakukan apa saja di lingkungan masjid itu.

Karena sekalipun orang Aceh, banyak juga  orang Aceh yang melihat masjid itu sepenuhnya dalam kontek kepentingan personal. Tidak lebih. Padahal pada sebuah masjid itu terkait sejumlah kepentingan dan ekspektasi publik, di samping sebagai salah satu episentrum taqarrub ilalllah.

Tentu bagi pihak yang memiliki perspektif bahwa pada masjid itu kepentingan dan ekspektasi publik di samping sebagai salah satu episentrum taqarrub ilalllah, maka ketika dia berada di lingkungan masjid maka dia akan menjaga segenap adab yang seharusnya dijunjung di lingkungan masjid.

Sebaliknya, bagi pihak yang melihat masjid hanya semata dalam perspektif kepentingan pribadi, tanpa sadar itu ruang publik, maka yang mereka lakukan di lingkungan masjid tentu hal ihwal yang berkaitan kepuasan personal.

Maka tidak aneh ada orang yang datang ke masjid hanya untuk buang hajat. Di masjid rata-rata ada jamban gratis. Maka dari itu ketika dia sudah selesai buang hajat, sekalipun dari dalam masjid terdengar iqamah tanda shalat wajib akan dimulai, dia tetap seketika meninggalkan masjid. Karena tujuannya ke masjid untuk buang hajat saja. Bukan untuk shalat.

Lalu bagaimana caranya agar pemanfaatan lingkungan Masjid Raya Baiturrahman dan juga masjid-masjid lainnya tidak terulang lagi oleh pegiat TikTok?

Sederhana saja!

Pertama, pengelola masjid mengefektifkan petugas keamanan untuk setiap waktu memantau aktivitas di dalam dan di luar masjid. Kita yakin dengan teknologi CCTV semua itu sangat mudah dilakukan.

Begitu ada kegiatan unfaedah di seputaran masjid langsung dilakukan tindakan terukur. Tapi ini tidak akan terjadi bila konsolidasi manajemen Masjid Raya Baiturrahman belum memadai. Dan petugas keamanan —- misalnya —- hanya menjaga kendaraan parkir dan duduk berkumpul di satu titik.

Kedua, karena Masjid Raya Baiturrahman adalah milik publik, maka semua kita harus ikut membantu pengurus masjid agar masjid kebanggaan kita ini luar dan dalamnya sesuai harapan kita bersama.

Misalnya, kalau kita sedang berada di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman, tiba-tiba kita melihat ada kegiatan yang aneh-aneh — termasuk pembuatan video TikTok —- maka keniscayaan bagi kita untuk menegur atau berkoordinasi dengan petugas keamanan masjid.

Insya Allah dengan keprihatinan dan perhatian kita bersama, ke depan di dalam dan luar Masjid Raya Baiturrahman tidak ada lagi kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif.

Kalaupun ke depan ada video TikTok berlatar belakang Masjid Raya Baiturrahman, maka platformnya yang menyejukkan hati. []

 

*) Usamah El-Madny, Kolumnis dan Redaktur Theacehpost.com

  • Bagikan