Silaturahmi ke The Aceh Post, Ini Pesan Kadisbudpar Aceh

Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal (tengah) foto bersama dengan unsur pimpinan The Aceh Post, Dharmayanti (Bidang Produksi The Aceh Post TV), Muhammad Balia (Komisaris PT Media Aceh Post), Nasir Nurdin Pemred The Aceh Post Grup (Theacehpost.com, Tabloid The Aceh Post, The Aceh Post TV), dan Safrizal Usman selakuDirektur Perusahaan di Kantor The Aceh Post di Banda Aceh, Kamis, 10 Agustus 2022. (Foto Theacehpost.com)

Theacehpost.com | BANDA ACEH – Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal berkunjung ke Kantor The Aceh Post dan mendiskusikan banyak hal terkait keunggulan Aceh di bidang budaya dan daya tarik wisata, termasuk batasan kreativitas dalam mengemasnya.

Di Kantor The Aceh Post, Kamis, 10 Agustus 2022, Almuniza disambut Nasir Nurdin selaku Pemred The Aceh Post Grup (Theacehpost.com, Tabloid The Aceh Post, The Aceh Post TV) bersama Komisaris PT Media Aceh Post Muhammad Balia, Direktur Perusahaan Safrizal Usman, dan Dharmayanti dari Unit Produksi The Aceh Post TV.

Pada pertemuan yang berlangsung santai itu, Almuniza mendiskusikan bebagai hal terkait keunggulan Aceh di bidang budaya dan kepariwisataan.

Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal didampingi Pemred The Aceh Post Nasir Nurdin berdiskusi dengan unsur pimpinan PT Media Aceh Post, Muhammad Balia dan Safrizal Usman ketika bersilaturahmi ke Kantor The Aceh Post, Kamis, 10 Agustus 2022. (Theacehpost.com)

“Terima kasih atas sambutan kawan-kawan di The Aceh Post. Kolaborasi media dengan pemerintah—termasuk dengan Disbudpar Aceh—perlu kita perkuat terus. Harus ada kesamaan pandang untuk tujuan membangun Aceh,” kata mantan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta tersebut.

Almuniza yang dilantik sebagai Plt Kadisbudpar Aceh pada 15 Juni 2022 berterimakasih kepada semua pihak—termasuk media—yang menurutnya telah memberikan dukungan hingga pihaknya sukses menggelar sejumlah agenda di bidang budpar, termasuk yang baru saja usai yaitu Aceh Culinary Festival (ACF) 2022 pada 5-7 Agustus 2022 di Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh.

Dalam salah satu bagian diskusinya, Almuniza berbicara soal kreativitas dalam mengemas even budaya dan pariwisata.

Menurutnya, ide-ide kreatif sangat diperlukan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai jual tinggi. Sejatinya, kreativitas jangan sampai melabrak nilai dan norma-norma—termasuk kearifan lokal—yang berlaku apalagi di Aceh yang menjalankan syariat Islam.

“Harus diingat, kreativitas itu tidak tak terbatas. Artinya, kita bebas berkreativitas sepanjang memperhatikan berbagai aturan termasuk kearifan lokal,” tandas Almuniza.

Diskusi terkait ‘batasan kreativitas’ itu disampaikan Almuniza setelah memperhatikan berbagai tanggapan masyarakat terhadap even yang dilaksanakan.

“Kita evaluasi dan kita tetap memperhatikan berbagai kritikan yang berkembang. Kita apresiasi berbagai kritikan dan masukan itu untuk perbaikan ke depan,” demikian Kadisbudpar Aceh.[]

 

google logo