Poin dan Koin

  • Bagikan
Sulaiman Tripa

SAYA punya pengalaman mengelola jurnal ilmiah. Di kampus, posisi jurnal sangat penting. Dunia akademis, dunia ilmiah, seyogianya salah satu ditandai oleh keberadaan jurnal. Tanpa jurnal, seharusnya malu disebut sebagai rumahnya ilmiah. Walau dalam realitas, orang bisa berbangga berlipat-lipat, dengan tanpa artikel ilmiah apa pun.

Selama ini, sejumlah tempat yang saya kunjungi, kampus-kampus penting menempatkan jurnalnya sebagai kekayaan penting. Dosen di dalamnya ditekan agar menulis. Tidak ada jangkauan dampak yang bisa diukur dari seseorang, tanpa adanya karya. Jadi dosen yang tidak memiliki karya tulis, tidak bisa berbangga dengan status dosennya.

Dengan demikian, keberadaan jurnal harus dipahami sepenting dan segenting itu. Sayangnya banyak kampus tidak memiliki keberpihakan yang jelas terhadap keberadaan jurnal di kampusnya. Banyak jurnal, seperti istilah, hidup segan mati pun tidak. Untuk kepentingan kampus, keberadaan jurnal dikehendaki, tetapi dalam realitas tidak ada usaha keras untuk mewujudkan ini.

Semangat jurnal ini seyogianya menurun kepada para penghuni kampusnya. Sayangnya tidak. Ada dosen yang malah tidak memiliki karya. Lalu ketika orang tanya bagaimana dampak pikiran seorang dosen, dari mana dilihat dampak itu?

Pengalaman mengelola jurnal membuat saya memahami tidak semua dosen juga butuh artikel. Sebagian membutuhkannya hanya ketika masa naik pangkat tiba. Di luar kepentingan itu, bahkan seseorang tidak akan menulis. Lucu. Untung kampus juga mewajibkan evaluasi tertentu seseorang yang harus memiliki tulisan. Dengan demikian ada penekan lain yang mau tidak mau, seorang dosen itu harus menulis.

Saya berpengalaman yang terulang lagi hal ini. Seorang penulis meminta ditunda publikasinya, karena tidak ada kepentingan lagi dengan pangkat. Coba bayangkan ada orang yang tidak malu meminta tulisannya ditarik, hanya gara-gara tidak lagi dibutuhkan untuk pangkat. Padahal, sebuah tulisan itu sudah melalui proses review. Sudah melibatkan banyak orang.

Pada posisi begini, saya teringat seorang guru saya. Setiap waktu, seorang guru saya selalu mengingatkan, menulislah bukan karena ingin naik pangkat. Sebaliknya, karena menulislah kita naik pangkat. Jangan sampai Anda baru mau berbicara poin ketika ada kepentingan koin di depan mata. Jika tanpa kepentingan itu, Anda tidak mau tau dengan poin-poin yang seharusnya dibutuhkan.

Guru saya itu selalu bilang, bukan karena mau naik pangkat kita baru menulis, karena proses ini rasional ilmiah yang seharusnya dilakukan semua akademisi dengan tanpa pertimbangan poin dan koin. Tetapi siapa peduli dengan hal ini. Pertama, poin diperkenalkan dengan sistem menghitung angka untuk hasil kerja tertentu. Setiap orang dipacu untuk mencapai target tugas tertentu. Kedua, koin sebagai kompensasi langsung dari poin. Dengan bekerja sistem poin, seyogianya akan diikuti sendiri koin.

Logika dan kalkulasi semacam ini, saya yakin, ada di banyak tempat. Marilah berusaha mencapainya dengan logis. []

  • Bagikan
# #