Malu

  • Bagikan
Sulaiman Tripa

Oleh: Sulaiman Tripa

TIDAK sering saya bayar minuman orang lain. Hanya sesekali. Semangatnya, terutama karena tulak-tarek. Dibayar, lalu sesekali membayar. Tapi pahamilah, sekali membayar satu warung minuman orang di kampung, tidak sebanding dengan beberapa gelas minuman orang yang di kota. Harga itu, katanya, setara dengan klaim rasa dan kualitas minumannya. Jadi bukan pada posisi berlebih.

Selama ini saya juga kerap mendapat hadiah dari teman-teman. Ketika diajak ngopi, lalu mereka yang membayar. Bisa jadi, ketika sesekali ditolak, juga akan berdampak pada hal lain. Rasa kecewa, misalnya. Hanya saja, saya berusaha mencoba mengingatkan agar apa yang dikeluarkan untuk membayar semacam ini, tidak berasal dari sesuatu yang tidak baik.

Begitulah pengalaman. Sesekali saya bayar. Sesekali. Banyak juga yang dibayar orang lain. Namun tidak semua orang akan menerima dengan lapang dada ketika dibayar. Ada orang yang malu. Kemarin, saat saya mau bayar segelas kopi seseorang, disebutkan pemilik warung, punya yang bersangkutan sudah membayarnya sendiri.

Dari pemilik warung saya tahu bahwa beliau merasa malu jika dibayar orang lain. Beliau datang dari rumah sudah dalam posisi membawa sejumlah kebutuhan. Segelas kopi dengan dua potong kue. Padahal saya sendiri hanya kebetulan. Sesekali saat saya singgah, ada sejumlah orang. Dengan harga yang murah, dan kebetulan memiliki sejumlah uang, saya berinisiatif untuk membayar.

Malu itu kadang-kadang khas. Dalam pesan agama, malu itu juga penting. Kamus Bahasa mengartikan malu sebagai rasa. Seseorang merasa tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik. Makna lain, segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya.

Saya bisa memahami betapa ada orang yang malu pada hal tertentu. Tidak semua orang merasa senang dan tenang. Apalagi para orang tua, biasanya sengaja datang ke warung dengan persiapannya. Ada orang tertentu, yang datang ke warung untuk mendapat sejumlah suasana pelepas lelah, sudah menyiapkan apa yang dibutuhkan. Setelah bekerja. Atau setidaknya setelah berdiam di rumah.

Soal lain, saya mendengar ada perubahan intensitas mereka yang sudah pensiun. Mereka merasakan sejumlah hal yang patut mendapat perhatian. Apalagi mereka yang waktu masih bertugas lumayan aktif. Jika tidak dikelola dengan baik, ada perubahan besar terjadi dalam hidupnya. Bayangkan orang-orang yang aktif, tiba-tiba pensiun dan perubahan aktivitas yang drastis berkurang.

Saya belajar dari orang dekat. Sebelum pensiun, sudah mempersiapkan diri, termasuk kesibukannya. Di luar ibadah. Ada orang yang sengaja mengatur penggunaan waktu secara efektif, agar ketika pensiun tidak merasakan sesuatu yang ganjil. Saya berusaha memahami bagaimana mereka merasa terasing pada posisi yang demikian.

Saya mencoba memahami bagaimana orang-orang yang hidupnya tertib. Mereka mempersiapkan diri dengan baik. Mempergunakan waktu, menatanya, termasuk dalam mengatur bagaimana sesekali mereka akan singgah di tempat tertentu. Seperti warung kopi. Saya bisa memahami bila ada orang yang malu mendapatkan fasilitas dari orang lain. Walau itu hanya untuk dibayar segelas kopi.[]

  • Bagikan
#