Gelar

Sulaiman Tripa

Oleh: Sulaiman Tripa

HARI ini batas terakhir bagi kami yang mengajar di kampus ini, untuk memasukkan nilai. Tidak lagi berhadapan dengan para petugas yang menginput. Seperti dulu. Setiap dosen, ketika mengakhiri tugas mengajarnya di ujung semester, akan menyerahkan secara manual. Daftar nama lengkap dengan jumlah nilai yang diperoleh. Keseluruhan nilai akan diakumulasi, lalu dibagi dengan jumlah dosen. Itulah nilai akhir yang diperoleh mahasiswa.

Format penyetoran nilai sudah berubah. Sekarang ini, nilai langsung dimasukkan sendiri dalam laman yang khusus untuk masing-masing mahasiswa. Pengajar akan masuk ke dalamnya dengan masing-masing akun. Mereka yang mengkoordinir mata kuliah, biasanya memiliki tugas lebih banyak. Termasuk untuk tugas yang saya jelaskan ini. Ketika mau dimasukkan ke sistem, tugas koordinator kuliah terkait hal ini.

Untuk setiap tenggat, selain batas waktu untuk memasukkan nilai, disediakan pula waktu untuk menyanggah. Sebagai cermin dari akuntabilitas. Setiap proses dan hasil akan dipertanggungjawabkan. Mahasiswa bisa menyanggah nilainya. Tapi menyanggah, tentu dengan alasan yang rasional. Tidak mungkin akan melakukan sanggahan, bila dari awal sadar betul bagaimana kemampuan dalam menyelesaikan tugas. Masing-masing kita memiliki kemampuan untuk merasai keadaan ini.

Saya memiliki pengalaman mengukur kemampuan semacam ini. Dulu tidak berani menyanggah nilai, jika tidak benar-benar yakin bahwa ada kesalahan yang penulisan jumlah nilainya. Sama seperti sekarang, saat saya kuliah, akuntabilitas ini juga terbuka ruang. Bedanya mungkin tingkat keberanian orang-orang yang akan mempertanyakannya.

Setiap era menghadapi hal yang sama. Ujian yang ditempuh sama. Mentalitas yang bisa jadi akan berbeda. Kata orang-orang dulu, proses sebagai sesuatu yang sangat penting dilakoni. Berproses dulu, baru hasilnya kemudian. Makanya cara-cara yang ditempuh dalam dunia pendidikan, bisa saja berbeda. Proses yang dilakoni juga berbeda. Tak heran, jika hasil yang diperoleh juga terasa bedanya.

Rasa pencarian keilmuan, katanya lebih terasa pada masa dulu. Orang yang mencari ilmu akan berusaha menyeimbangkan dengan adab. Soal ini, sudah bicara dalam ranah nilai. Orang sekarang tidak sepenuhnya menjadikan nilai sebagai sesuatu yang penting. Sebagian orang sudah merasa semuanya harus terukur dengan materi. Orang akan meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibaca dengan keterukuran tadi.

Proses pendidikan akan diukur dengan hasil. Barangkali kepentingan pendidikan untuk mencari gelar melupakan betapa hakikat pendidikan sudah berubah sedemikian rupa. Pendidikan dan adab adalah dua hal yang menyatu, dan harus saling menguatkan. Makanya membicarakan nilai tidak mungkin ditinggalkan.

Orang-orang yang sedang mengejar gelar, hanya peduli pada hasil –pada angka yang seharusnya bisa diperoleh. Semakin baik angka, akan semakin cepat mendapat gelar. Tentu, jika angka rendah, kita tidak malu mengiba agar bisa sedikit ditambah, sebab gelar harus cepat bisa didapat. Adab yang mengiringi gelar, ditinggalkan di pinggir jalan. []

google logo