FOTO: Limbah Medis Kala Pandemi

  • Bagikan
Limbah medis di ruang mesin incinerator (pembakar limbah medis) Rumah Sakit Umum Meuraxa, Banda Aceh, Jumat (20/11/2020). Dua tahun belakangan incinerator Rumah sakit Meuraxa tidak beroperasi terkait perizinan dan menggunakan jasa pihak ketiga untuk mengelola limbah medis. (Foto: Fahreza Ahmad)

Theacehpost.com | BANDA ACEH – Salah satu persoalan di tengah pandemi Covid-19 adalah limbah infeksius; yaitu jenis limbah yang terkontaminasi organisme pathogen dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan.

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati mengatakan pandemi Covid-19 telah menyebabkan kenaikan volume limbah medis sekitar 30-50 persen dan total limbah infeksius corona sampai 15 Oktober 2020 mencapai 1.662,75 ton.

KLHK telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri LHK tentang Pengelolaan Limbah Infeksius dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Covid-19 sejak awal kasus ditemukan di Indonesia pada Maret 2020.

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 KLHK, Sinta Saptarina mengatakan ada beberapa masalah dalam pengelolaan limbah medis dampak Covid-19, di antaranya, masih banyak rumag sakit (RS) yang memiliki insinerator namun tidak memiliki izin.

Lalu, banyak pula RS yang izin insineratornya (alat pembakar sampah) masih berproses, namun tidak sedikit RS yang memang tidak memiliki fasilitas tersebut.

Dampak limbah infeksius bisa lebih berbahaya di Indonesia karena tak banyak sistem pengolahan limbah medis yang baik dan berizin.

Jika pun ada, pengolahan dengan insinerator bisa menghasilkan polutan berbahaya. Dalam skala nasional, jumlah rumah sakit dengan insinerator berizin di Indonesia hanya 113 izin.

Dengan adanya peningkatan hingga 30% limbah B3 medis di masa pandemi, pemerintah merencanakan menambah fasilitas pengelolaan limbah medis yang sejauh ini masih berpusat di Pulau Jawa.

Namun terlepas dari berbagai persoalan di atas, menjaga lingkungan tetap bersih merupakan tugas kita bersama. Pandemi masih jauh dari selesai.

Selain memantau pelaksanaan peraturan pemerintah, masyarakat harus menjamin untuk menjaga limbah infeksiusnya masing-masing serta menjangkau para kolega untuk mendorong kepatuhan pada protokol kesehatan dan melindungi lingkungan.

Limbah masker yang dibuang di jalanan Banda Aceh, Senin (9/11/2020). Jumlah pemakaian masker di masyarakat yang meningkat karena dianggap sebagai cara aman terlindung dari Covid-19 memicu ancaman ekologi baru seiring dengan perilaku masyarakat yang membuang sampah masker sembarangan. (Foto: Fahreza Ahmad)
Limbah sarung tangan sekali pakai di sebuah Rumah Sakit di Banda Aceh, Kamis (5/11/2020). Ahli lingkungan memperingatkan bahwa masker dan sarung tangan sekali pakai yang digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit coronavirus adalah polutan tambahan yang mengancam lingkungan. (Foto: Fahreza Ahmad)
Cerobong asap incinerator di Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh, Senin (5/10/2020). Polutan yang berasal dari incinerasi limbah medis menghasilkan dioxin yang berkarakteristik persisten, bioakumulatif dan karsinogen, terutama pembakaran sampah yang mengandung chlorine. (Foto: Fahreza Ahmad)
Masker sekali pakai yang dibuang warga di kawasan Blang Bintang, Aceh Besar, Rabu (25/11/2020). Limbah medis menjadi ancaman baru di tengah pandemi virus corona. (Foto: Fahreza Ahmad)
Limbah botol infus di lokasi pembuangan sebuah Rumah Sakit di Banda Aceh, Jumat (20/11/2020). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, hingga 8 Juni 2020, volume limbah medis infeksius atau limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di seluruh Indonesia mencapai lebih dari 1.100 ton. (Foto: Fahreza Ahmad)
Limbah masker yang dibuang di jalanan Banda Aceh, Jumat (20/11/2020). Sebagai golongan jenis sampah berbahaya, masker seharusnya dikelola secara khusus dengan mengguntingnya atau merusaknya terlebih dahulu. Setelah itu dibungkus dengan plastik dan dibuang di tong sampah khusus bahan berbahaya beracun (B3). (Foto: Fahreza Ahmad)
Ragam limbah medis di tempat sampah senuah Rumah Sakit di Banda Aceh, Kamis (5/11/2020). Jumlah limbah medis yang melimpah mengharuskan proses pengelolaan yang hati-hati karena dikhawatirkan akan menjadi sumber penyebaran wabah. (Foto: Fahreza Ahmad)

  • Bagikan