FOTO: Garam Rakyat

  • Bagikan
Syafrizal (32) merebus air laut dalam proses produksi menjadi garam di Desa Lam Ujong, Aceh, Senin (20/7/2020). Para petani garam mengatakan kewalahan untuk memenuhi permintaan garam lantaran kondisi dapur dan fasilitas produksi garam yang masih terbatas. (Foto: Fahreza Ahmad)

Theacehpost.com | ACEH BESAR – Luas Kabupaten Aceh Besar mencapai 2.974,12 km2 yang terdiri dari 23 Kecamatan. Dari 604 desa di dalamnya 87 di antaranya berada di kawasan pesisir. Memiliki panjang total garis pantai 344 km, Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah yang potensial untuk perkembangan usaha pembuatan garam.

Salah satu sentra produksi garam di Aceh Besar berada di Desa Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam. Industri Garam Desa Lam Ujong, Aceh Besar, merupakan bagian dari industri mikro yang saat ini digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Di lahan seluas 4 hektare, 22 petani garam bekerja setiap hari memproduksi sekitar 400 kilogram garam per harinya.

Untuk jumlah produksi garam di seluruh Aceh tercatat sebanyak 6 ribu ton per tahun. Sedangkan estimasi kebutuhan garam konsumsi rumah tangga dan industri, menurut Disperindag Aceh, mencapai sekitar 46 ribu ton.

Sebagai komoditas strategis, produksi garam di Indonesia masih sangat tergantung kepada cuaca. Curah hujan yang tinggi dapat menghambat produksi yang berakibat pada menurunnya volume produksi. Minimnya penerapan teknologi merupakan salah satu faktor Indonesia masih bergantung dengan garam impor.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), selama Agustus 2020, Indonesia telah melakukan impor garam sebanyak 279.701 ton yang setara nilai nilai 10,21 juta dolar AS, naik tajam hingga 102,47 persen month to month dari Juli 2020 yang ‘hanya’ 143.546 ton senilai 5 juta dolar AS.

Presiden Joko Widodo telah memutuskan agar Indonesia tetap melakukan impor garam untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Kebutuhan garam nasional pada 2020 diperkirakan sebesar 4,4 juta ton, terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,74 juta ton, rumah tangga 321 ribu ton, dan lainnya sebesar 398 ribu ton. Sedangkan produksi garam nasional pada 2020 diperkirakan hanya sebesar 2,5 juta ton, sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan garam di dalam negeri.

Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Agus Suparmanto mengungkapkan, “Rendahnya produktivitas garam di dalam negeri disebabkan produksi garam yang rentan terganggu cuaca, lahan pergaraman yang tidak luas dan tidak terintegrasi, serta sistem pemanenan garam yang sederhana. Selain membuat jumlah produksi yang rendah, hal ini juga berdampak pada kualitas garam yang tidak seragam,” paparnya.

Petani garam membangun dapur garam baru di Desa Lam Ujong, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2020). Seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan garam akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. (Foto: Fahreza Ahmad)
Metode pengolahan garam menggunakan terowongan (tunnel), di Desa Lam Ujong, Baitussalam, Aceh Besar, Aceh, Jumat (14/8/2020). Para petambak garam Desa Lam Ujong, mengaku terkendala biaya dalam menerapkan teknologi membran plastik. (Foto: Fahreza Ahmad)
Zuruwanis (42), menekuni usaha garam selama 2 tahun terakhir di Desa Lam Ujong, Senin (10/8/2020). Umumnya, petani garam mendapatkan pengetahuan secara turun-menurun. Walaupun sebagian petani sudah puas dengan metode tradisional, namun sebagian lagi ingin meningkatkan pendapatan dengan mencoba teknologi baru. (Foto: Fahreza Ahmad)
Petani garam membersihkan tambak yang kotor setelah diguyur hujan di Desa Lam Ujong, Selasa (3/11/2020). Cuaca buruk kerapkali berdampak pada proses produksi garam yang masih tradisional. (Foto: Fahreza Ahmad)
Lahan garam Desa Lam Ujong yang tersisa sekitar 4 hektar semakin terdesak oleh pembangunan perumahan, Selasa (3/11/2020). Bupati Aceh Besar, H Mawardi Ali, telah menjanjikan sisa lahan sewaan produksi garam tersebut tidak dijual dan pemerintah tidak akan mengeluarkan lagi izin pembangunan perumahan disana seiring akan mengkaji lokasi pengembangan garam baru. (Foto: Fahreza Ahmad)
Gubuk yang berfungsi sebagai dapur perebusan garam di Desa Lam Ujong, Aceh Besar, Senin (10/8/2020). Selain terkendala lahan, produksi garam Indonesia masih menggunakan metode tradisional yang berdampak pada volume produksi. (Foto: Fahreza Ahmad)
Suasana di dapur perebusan garam Desa Lam Ujong, Aceh Besar, Senin (20/7/2020). Produksi garam Indonesia menggunakan metode sederhana yaitu air laut yang telah diendapkan selama beberapa hari dimasak dengan menggunakan wadah besi selama dua jam hingga berubah jadi garam. (Foto: Fahreza Ahmad)
Amir, bekerja di dapur garam Desa Lam Ujong, Selasa (3/11/2020). Dengan kualitas garam yang baik petani garam Lam Ujong mendapatkan pesanan rata-rata 150 kilogram perhari dengan harga jual Rp 5000 per-kg, namun produksinya sering terhambat cuaca. (Foto: Fahreza Ahmad)
Syafrizal (32) merebus air laut dalam proses produksi menjadi garam di Desa Lam Ujong, Aceh, Jumat (14/8/2020). Akibat terdampak pandemi, serapan garam lokal oleh industri cukup rendah selama setahun terakhir. (Foto: Fahreza Ahmad)
Petani garam bekerja di dapurnya yang bersebelahan dengan perumahan di Desa Lam Ujong, Selasa (3/11/2020). Saat ini, lahan produktif banyak yang beralih fungsi. Hal ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dalam negeri karena lahan masih menjadi tumpuan peningkatan produksi garam. (Foto: Fahreza Ahmad)
  • Bagikan