Dongkrak

TADI siang, saat menjenguk mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) yang di bawah bimbingan saya, ban mobil saya kempes. Terasa persis di tempat yang tidak ada tukang tempel. Tidak ada tempat perbaiki. Sudah dua kali saya berhenti dan memperhatikan ada suara aneh dari ban mobil. Tapi tidak saya temukan. Ternyata baru kemudian, ketika ban benar-benar tidak ada angin, saya temukan satu baut yang menempel pada ban sebelah kanan.

Saya harus berhenti di tempat sempit dan sepi. Selain kami dari dalam mobil, di luar hanya ada sejumlah monyet yang merapat. Mereka mungkin mengira ada manusia yang akan menghadiahi makanan. Selebihnya tidak ada. Istri saya malah harus berdiri di dekat tikungan untuk memberi lambaian kendaraan yang lewat. Jalan agak kecil dan bisa membahayakan orang lain.

Untuk kebutuhan ini, saya membuka bagasi untuk mengambil ban ganti. Ternyata, karena tidak perhatian, ban ini juga agak kempes. Lengkaplah. Akhirnya kami putar haluan. Sejumlah orang dalam mobil saya kemudian naik angkutan umum L-300. Beberapa mobil penumpang lewat, namun agak penuh.

Ada satu mobil yang sebenarnya juga penuh. Saya bilang turun ke warung dasar gunung. Tidak jauh. Saya dengar sendiri, sopir meminta maaf kepada penumpangnya, untuk menaikkan rombongan saya. Mobil saya setir sendiri agar tidak terlalu berat. Menurut istri saya, sopir L-300 itu malah menolak diberikan ongkos. Katanya, biasa saling menolong.

Kata-kata sopir yang tadi membuat saya terpikir banyak hal. Menurutnya, sopir itu juga sering dibantu orang lain. Di tengah perjalanan, tiba-tiba bermasalah dengan mobilnya, selama ini, selalu saja ada yang bantu. Kita bantu orang, katanya, orang pada saatnya nanti akan membantu kita. Bagi saya, kata ini menusuk. Tidak ringan tangan saya selama ini untuk membantu orang lain di jalan. Pengalaman ini benar-benar berbeda.

Soal ditolong satu hal. Ada hal lain yang sesungguhnya sangat penting. Saya tidak memperhatikan ada yang kurang dalam mobil. Kebutuhan fatal. Dongkrak. Saya berangkat ke banyak tempat. Tidak teringat. Baru dalam sebulan terakhir, saya terpikir soal ini. Lalu saya lihat di dalam bagasi. Ternyata tidak ada. Saya yakin ada yang memindahkan. Apalagi mobil ini, sering berada di banyak tempat.

Dongkrak digunakan untuk mengangkat mobil. Misalnya saat ingin mengganti ban. Bisa dibayangkan jika alat ini tidak tersedia, padahal saya tidak terhitung sudah kemana-mana dengan mobil yang tanpa dongkrak di dalamnya. Teringat, baru bulan kemarin pergi ke Peunayong untuk membelinya. Siang tadi, terpikir lagi bagaimana jika alat itu saja tidak saya miliki. Tapi ternyata ada hal lain juga, yang tidak kalah rumit.

Ada fasilitas, ada juga bantuan. Orang yang lengkap fasilitas, jangan pernah menyebut tidak butuh bantuan orang lain. Untuk hal sederhana saja, bagi kita, tanpa bantuan orang lain, akan tampak rumit. []

google logo