Daring

  • Bagikan
Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Dr Sulaiman Tripa SH MHum.

Oleh: Sulaiman Tripa

MASA pandemi ini, kampus dikenalkan secara masif dengan daring –singkatan dari dalam jaringan. Sebelumnya, istilah daring, dengan bantuan ruang virtual, sebenarnya sudah banyak dikenal. Kampus-kampus terkenal sudah terbiasa saling berbagi informasi dan pengetahuan melalui jaringan virtual itu.

Berbeda dengan kampus-kampus yang seolah tidak berasa jika tidak dengan tatap muka langsung. Tidak heran, kampus-kampus terbuka sudah membuka diri dengan perkembangan teknologi. Mereka menyelenggarakan berbagai konferensi dengan peserta lintas benua. Tanpa harus mengeluarkan biaya pesawat, penginapan, dan semacamnya. Mereka bisa mengundang pembicara dari berbagai negara, seolah tanpa sekat.

Kuliah di tempat kita, juga serasa tidak berasa. Kuliah luring –singkatan dari luar jaringan—diupayakan. Alasannya sederhana. Meragukan dan tidak merasa pas tanpa tatap muka langsung. Seperti kehilangan semangat. Setiap hari berjumpa dengan muka-muka telepon pintar yang tidak berwajah. Tidak semua membuka tabingnya, dengan berbagai alasan. Yang paling mencolok, meminta izin tidak menyalakan video karena jaringan yang tidak bagus.

Beberapa kali saya memiliki pengalaman sebaliknya. Saat sejumlah mahasiswa, bahkan mungkin dosen sendiri, yang lupa menutup suara, terdengar sedang tidak pada tempat yang semestinya. Mereka yang sedang kuliah, seharusnya sibuk mempersiapkan dan mendengar, walau kamera tidak dinyalakan. Tapi suara yang terdengar tidak seperti itu. seperti sedang ada hajatan penting sesama kelompoknya.

Begitulah ketika daring dibandingkan dengan luring. Saya merasakan rasa senyap yang lain. Ketika melaksanakan ujian satu mata kuliah, dari empat kelas yang berbeda. Jumlah mahasiswa sekitar 100 orang. Saya memberikan empat soal. Tahukah apa yang terjadi? Ada 17 jawaban yang sama persis untuk soal yang pertama. Lalu ada 25 jawaban yang sama untuk soal kedua. Ada 21 jawaban yang sama untuk soal ketiga. Begitu juga dengan soal keempat, saya temukan 17 jawaban yang sama.

Saya menggunakan jurus paling sederhana. Mengambil sejumlah kata unik, lalu menempelkan pada ruang search. Kata yang saya ambil: (1) memiliki latar belakang yang sama; (2) Rintisan Comte tersebut disambut; (3) Contoh yang di berikan Durkheim; dan (4) tidak langsung dijelaskan di dalam berita. Saya mengambil yang agak aneh, misalnya kata yang seharusnya ditulis yang sama, tertulis “yg smaa”. Demikian juga dengan kata diberikan, tertulis “di berikan”.

Apa dan siapa yang harus disalahkan terkait dengan hal ini? Apakah jika dalam pertemuan langsung tidak mungkin ada ruang untuk kejadian yang semacam ini? Pola ujian memang menentukan waktu dalam 60 menit. Ketika dalam suasana yang tidak terkontrol layaknya ujian, berbagai hal ternyata memungkinkan terjadi.

Ada satu hal yang menggelisahkan saya sebenarnya. Bukankah ujian itu sesungguhnya untuk menguji kita sendiri agar kita tahu bagaimana kemampuan kita. Lantas ketika kita sendiri tidak bisa mempercaya diri sendiri, bagaimana juga lebih dalam tentang nilai-nilai moral kita? []

Editor: Eko Deni Saputra
  • Bagikan
#