Apakah PWI Itu Masih Ber”kibar” Sir!

  • Bagikan
Foto dokumen Konferprov XI PWI Aceh tahun 2015 di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Nasir Nurdin (tengah) diapit oleh Harbiyah A. Gani (Ketua IKWI Aceh) dan Tarmilin Usman (kanan) yang terpilih sebagai Ketua PWI Aceh melalui konferensi waktu itu. (Foto: nuga.co)

BERITA tentang Konferensi Provinsi (Konferprov) XII PWI Aceh yang dilaksanakan pada 19-21 November 2021 di Banda Aceh mendapat perhatian luar biasa dari berbagai media. Begitu juga ketika Nasir Nurdin (Pemred The Aceh Post/mantan Waredpel Serambi Indonesia) terpilih sebagai Ketua PWI Aceh Periode 2021-2026, ucapan selamat terus mengalir. Penilaian terhadap sosok Nasir, belum juga berhenti, setidaknya hingga tulisan ini diunggah. Salah seorang yang menyamperin Nasir sekaligus mengucapkan selamat adalah Darmansyah, yang pernah menjadi unsur pimpinan di Serambi Indonesia. Tulisan khas itu ditulis Bang Darman—begitu pria itu akrab disapa—tayang di nuga.co, sebuah situs berita dari Aceh. Ucapan selamat khas Bang Darman dikutip seutuhnya oleh Theacehpost.com, berikut ini.

Sudah lama saya tak bersentuhan dengan media lokal. Baik cetak maupun online.

Alasannya? Sepele. Nggak greget.

Sebab, dari judulnya saja udah ketahuan isinya.

Itu sih  masih lumayan. Parahnya lagi dari judul hingga isinya terus bertanya.

Lantas jawabannya?

“Soh”

Anda tahu kata “soh”  kan.  “Kick” gaya Aceh.  Nggak perlu diperpanjanglah

Tapi, entah kenapa. Kemarin. Kala berselancar di medsos,  terkulik salah satu media lokal online. Lantas muncrat dua “news” sekaligus

Pertama tentang “news” yang bersumber  dari Akmal Ibrahim. Lengkap dengan  fotonya lagi menyilangkan kaki di sofa.

Dan saya terpana melihat face-nya.

Bukan judul dan isi beritanya.

Lantas memperbesar gambar.

Kedua. Berita Nasir Nurdin terpilih jadi ketua pwi Aceh. Juga ada fotonya. Trio lagi. Bukan sekelas “trio libel” yang jingkrak-jingkrak itu

Yang satunya, di kiri Nasir, saya kenal amat. Tarmilin Usman.  Rekan kerja juga. Anak “ketelatan” yang mengaku-ngaku sebagai Pidie. Tapi tak ada “prak”nya.

Saya nggak mau menyenggolnya. Kalau sekiranya ia membaca tulisan  ini pasti ada perkataan itu…….

Sedangkan di kanan  Nasir, wanita berhijab, saya nggak ngeh.

Kita kembali dulu ke Akmal Ibrahim.

Melihat wajahnya tak ada yang berubah. Masih dengan sorot  mata  Akmal yang dulu.  Egaliter plus sinisme. Yang kalau dirangkum dalam satu kata “mbong”

Wah.. Anda bisa bahaya kalau pendukung Akmal meradang. Begitu peringatan dari otak kecil saya mengingatkan.

Di bully?

Jangan dululah mem”bully” saya”

Anda perlu membaca lanjutan tulisan ini.

“Mbong”nya Akmal bukan sembarang “sombong.” Sikap itu  lahir dari kecerdasannya.  Kecerdasan intelektual alaminya sebagai “aneuk aso lhok” yang berpadu dengan latar pendidikannya.

Tentu Anda akan bertanya, kok bisa-bisanya  saya menguliti seorang Akmal.

Ahh… nggak usah nyinyirlah. Ala netizen. Akmal yang Ibrahim ini kan rekan kerja saya, dulunya Di sebuah media lokal terkenal. Saya pernah jadi “boss” kecilnya.

Tidak hanya Akmal. Istrinya, yang saya panggil si Ida,  kalau kalian tentu memanggilnya buk Ida, juga bagian dari lingkar kerja yang saya gawangi.

Kok ge-er, begitu.

Ya udah. Saya berbisik ke memori untuk menyudahi bahasan tentang  Akmal.

Bahasan yang  ingin saya tulis, sebenarnya, tentang muatan berita lain. Berita yang juga ditulis media online tersebut.

Tentang keterpilihan Nasir Nurdin sebagai ketua pwi Aceh.

Inilah topik utama tulisan saya. Topik yang mempertanyakan kok masih berkibarnya eksistensi organisasi kewartawanan bernama PWI itu di tengah makin terbukanya informasi dan pilihan rumah bernaung mereka kaum jurnalistik.

Sebagai seorang jurnalis yang tak pernah ngeh dengan naungan organisasi saya tak ingin membelah pilihan seorang wartawan terhadap “rumah”nya.

Biarlah mereka memilih dan dipilih.

Untuk Nasir Nurdin  pun saya tak ingin mengusik jalan keterpilihannya. Jalan ia bernaung di bawah bendera pwi.

Memangnya!

Karena itulah jalannya.

Jalan yang ia  tempuh usai mengarungi ritual panjang di sebuah media lokal hebat. Media lokal yang saya juga ikut besar dan membesarkannya.

Media lokal yang memberi Nasir ruang untuk menuliskan akhir perjalanannya sebagai “I’m a stringer.”  Media lokal yang menyediakan waktu dua puluh tujuh tahun baginya untuk berkiprah.  Sekaligus “pensiun”dalam tanda dua petik.

Pasnya purnakarya.

Saya sengaja menulis dalam tanda dua petik kata pensiun  itu karena jurnalis itu sendiri tidak pernah mati. “Journalist never die!”

Karir Nasir sebagai jurnalis memang tidak purna karya. Secara samar-samar, kemudiannya, saya dengar ia telah jadi pemimpin redaksi sebuah media online.

Syukurlah. Sesyukur saya membaca ia jadi ketua pwi Aceh. Dan sesyukur saya ketika di sebuah pagi pertengahan Januari lalu saya kepergok dengannya di sebuah warung kopi kawasan Lampulo.

Ia berlari meninggalkan seruput kopinya. Menghampiri saya. Bersalaman. Dan minta saya menunggu sejenak. Ketika datang lagi  ia menggenggam tangan saya menyerah sebuah buku tipis.

Sesampai di rumah saya baru tahu itu buku autobiografinya. Di lembaran pertama ada tulisan tangannya “untuk guruku Pak Darmansyah terima kasih untuk semua bimbingn dan arahannya.”

Saya sempat nelangsa mengenang hari-hari kehadirannya di ruang kerja saya. Hari-hari ia datang dengan sedikit perasaan minder sebagai “stringer” berbayar untuk kemudian menjadi koresponden dan reporter.

Itu diakuinya dalam biografi ringkasnya. Saya salut. Ia bisa meninggalkan kenangan indah dengan “i’m a stringer.”  Saya sendiri,  walaupun menempuh perjalanan panjang sebagai jurnalis, lima puluh dua tahun, tak mampu menulis sebuah biografi untuk sendiri.

Sampai di sini saya menghela nafas panjang. Menghembuskannya. Sebagai alarm untuk kembali ke trek. Trek menulis pwi-Nasir Nurdin.

Pwi yang saya tulis dengan huruf kecil untuk mengenang sejarah panjang organisasi kewartawan ini yang puncak kejayaannya diletakkan di bawah ketiak Harmoko.

Ketiak seorang ilustrator yang menjadi pemilik koran “Pos Kota” yang ritual karirnya amat mentereng. Menjadi ketua pwi pusat,  menteri penerangan yang sangat lekat dengan puncak kekuasaan, ketua golkar dan menuntaskannya sebagai ketua dpr-ri.

Orang boleh mengolok-oloknya sebagai harmoko-hari-har-i o-mo-ng ko-song.” Para jurnalis egaliter yang menempatkan “investigation reporting” boleh memilih jalan berbeda dengan pwi-nya harmoko lewat organisasi aliansi jurnalistik indonesia.

Tapi pwi harmoko tetap berkibar.

Dan saya bertanya kepada Nasir Nurdin. Apakah pwi-mu akan berkibar?

Tak perlu jawaban. Ini organ pilihan Anda. Dan pilihan ini di Aceh telah dijalani oleh yang namanya Tia Huspia, Syamsul Kahar, Syarief Harris, dan Tarmilin Usman.

Semua nama ini, non pak Tia, adalah orang kita. Mereka diasuh oleh rembulan bernama ………… media yang saya nggak mau sebut namanya.

Ingat Sir…. organisasi ini bukan untuk tempat kongko-kongko menjinakkan jurnalis egaliter yang mampu mengkemplak  kebijakan salah arah. Kebijakan membancak anggaran sejak dari draft hingga proyek.

Organisasi ini adalah tempat mereka profesional yang mengatakan salah ya salah dan benar juga benar…..

Adios sang stringer….[]

 

  • Bagikan
#